Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Gadis yang bertempat tinggal di Desa Dumpil RT 06 RW 01 Kecamatan Dukuhseti itu, tak lelah berkeliling. Sebelum sayur dagangannya itu habis, pantang baginya untuk pulang.

Di tengah usianya yang baru 17 tahun, dia terpaksa harus menjual sayuran keliling. Ibunya, yakni Suprihatin saat ini tengah hamil tujuh bulan. Sehingga, dirinyalah yang menggantikan ibunya untuk berjualan.

"Saya merasa kasihan dengan ibu saya. Tengah malam harus kulakan sayur ke pasar, kadang-kadang kehujanan. Padahal usia kandungannya sudah tujuh bulan. Karena itu saya berinisiatif untuk menggantikan ibu berjualan," ungkap gadis yang akrab disapa Via.

Via mengaku masih duduk dibangku kelas XI SMA 2 Tayu. Karena saat ini tengah banyak belajar daring lantaran pandemi Covid-19, dia pun lebih banyak di rumah. Sehingga, waktu yang tersisa bisa digunakan untuk membantu ibunya.

Dia bercerita, untuk kulakan sayuran di pasar, dirinya harus bangun pukul 01.00 dini hari. Setengah jam kemudian ia berangkat ke pasar membawa bronjong. Smapai di pasar, ia pun harus memilah sayur yang akan di jual beserta bumbu lainnya.

[caption id="attachment_203282" align="aligncenter" width="880"] Via melayani para pembeli (MURIANEWS/Cholis Anwar)[/caption]

Pukul 04.00 WIB, dia harus sudah pulang untuk membongkar barang yang di belinya dari pasar itu. Di depan rumahnya, sudah tersedia meja panjang yang terbuat dari bambu. Di tempat itulah sayur beserta bumbu di tata.

Warga sekitar biasa membeli sayur di tempat Via. Pukul 05.30 WIB, warga sudah banyak yang berdatangan. Ada yang melakukan tawar menawar, ada juga yang langsung memberikan uang tanpa harus menawar.

"Jualan di depan rumah sampai jam 06.30 WIB. Kalau sudah tidak ada yang beli, barang saya masukkan lagi ke bronjong, lalu saya tawarkan secara keliling," ungkapnya.Untuk menjual sayurnya itu, Via hanya berkeliling di sekitar Desa Dumpil. Itu pun terkadang tidak dilakukan kalau barangnya habis di jual di rumah."Keliling sampai jualan saya habis. Paling lama sampai jam 10.00 WIB," terangnya.Dalam melakoni jualannya itu, Via mengaku belum bisa memastikan sampai kapan. Apalagi kondisinya juga sebagai seorang pelajar. Namun, dirinya tetap mempunyai rencana untuk membantu meringankan beban orang tua tersebut."Kalau sudah masuk sekolah, rencana saya mau kulakan ke pasar. Jualan di rumah. Kelilingnya dipikir nanti," imbuh gadis berrambut panjang ini.Dari dulu, Via selalu berkeinginan untuk membantu kedua orang tuanya. Apalagi, dia juga mempunyai adik yang masih duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar. Bahkan setelah lulus sekolah, dirinya juga berpikiran untuk langsung bekerja. Reporter: Cholis AnwarEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler