Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Pati – Para produsen keripik tempe di Kabupaten Pati saat ini dalam kondisi ngenes. Sejak beberapa bulan terakhir ini bahkan mereka tak berani memproduksi keripik dengan jumlah banyak.

Penyebabnya karena minya goreng. Harga minyak goreng di pasaran yang melejit, membuat produsen keripik tempe harus memutar otak.

Seperti usaha kripik tempe yang dikembangkan oleh Restutik, warga Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Pati. Ia tidak bisa memproduksi dalam jumlah banyak, lantaran harga minyak goreng yang belum stabil.

Menurutnya, melejitnya harga minyak goreng ini mulai dirasakan sejak September lalu. Dirasa harganya akan turun seiring berjalannya waktu, tetapi justru malah terus mengalami kenaikan.

"Minyak goreng curah, awalnya seliter harganya Rp 11.000, tapi saat ini sudah Rp 16.000. Untuk yang kemasan, paling murah dulunya Rp 14.000 per liter, tetapi kini sudah Rp 18.000," katanya, Rabu (17/11/2021).

Dengan naiknya harga minyak goreng tersebut, pihaknya mengaku sangat berdampak bagi usaha keripik tempe yang dilakoninya. Sebab, minyak adalah bahan dasar untuk penggorengan.

Baca: Harga Minyak Goreng Naik, Dinas Perdagangan Kudus Cari Penyebabnya
Baca: Harga Minyak Goreng Naik, Dinas Perdagangan Kudus Cari PenyebabnyaApabila harga keripiknya turut dinaikkan, dia khawatir pelanggan akan kabur. Sementara apabila harga jual keripik tempe tidak dinaikkan, dia tidak akan mendapatkan keuntungan."Saya juga bingung. Padahal, untuk menghasilkan kualitas rasa yang enak dan empuk, saya harus menggoreng keripik sebanyak dua kali. Tapi kalau harga minyaknya naik seperti ini, ongkos produksi juga bertambah," imbuhnya.Padahal, lanjutnya, untuk sekali produksi pihaknya bisa menghabiskan minyak goreng sebanyak 10 liter. Itu pun masih sekala kecil. Ketika ada pesanan bisa lebih dari itu."Tapi saat ini masih sepi, mungkin karena dampak Covid-19 juga, daya beli masyarakat masih kurang. Kalau harapan, semoga pemerintah dapat menyetabilkan harga minyak goreng ini," pungkasnya. Reporter: Cholis AnwarEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler