Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Sebabnya, dalam berbagai kesempatan, kades ini selalu memakai penutup kepala. Bentuknya, bukan kopiah seperti yang lainnya, tetapi berupa blangkon.

Sosok kades yang unik ini adalah Ledy Heriyanto. Saat ini, pria berusia 41 tahun tersebut menjabat sebagai Kepala Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan.

Sejak dilantik jadi kades pada 23 Maret 2013 lalu, hampir tiap hari selalu mengenakan blangkon. Termasuk saat tugas sehari-hari melayani masyarakat. Bahkan, saat rapat di Pemkab Grobogan, Heriyanto tetap tampil pede dengan blangkonnya.“Semenjak remaja, saya memang suka dengan blangkon. Tetapi, saya intensif pakai blangkon semenjak jadi kades,” kata suami Tatik Sumiyati itu.

Heriyanto mengakui, dengan memakai blangkon itu dirinya memang mudah dikenali oleh banyak orang. Bahkan dengan blangkonnya itu jugalah dia gampang dicari saat berbaur bersama banyak orang.

Tujuan Heriyanto memakai blangkon bukan untuk gagah-gagahan atau sekedar cari sensasi. Tetapi, salah satunya untuk melestarikan barang warisan leluhur di samping memang sudah jadi hobinya.

Lantaran senang, bapak dua anak itu sempat punya puluhan koleksi blangkon. Namun, saat ini koleksi blangkonnya berkurang banyak. “Dulu sempat punya 30 an blangkon berbagai model dan warna. Sekarang tinggal sedikit karena banyak diminta teman,” kata pemilik Orkes Melayu Madenta itu.
Meski memakai penutup kepala yang tidak lazim dipakai banyak orang, Heriyanto mengaku enjoy. Bahkan, pemakaian blangkon juga tidak mengganggu aktivitasnya bekerja dan melayani kepentingan masyarakat.Heriyanto mengaku awal ketertarikannya dengan blangkon berawal ketika sering nonton pagelaran wayang kulit. Sebelum pagelaran wayang dimulai, ada salah seorang waranggana atau penabuh gamelan, iseng-iseng memakaikan blangkon yang dipakai ke kepalanya.“Saat dipakaikan, saya dibilang cocok kalau pakai blangkon. Ternyata, saya rasa-rasakan memang nyaman juga. Dari situlah, saya akhirnya suka sama benda yang bernama blangkon ini,” cetus pria yang lebih suka dipanggil Heri Chodot itu.Disinggung perihal nama aliasnya itu, Heriyanto bercerita kalau panggilan Chodot itu sudah melekat sejak ia masih kecil. Ceritanya, saat kecil, ia suka keluyuran malam terutama saat musim buah mangga. Tujuannya, untuk mencari buah mangga yang jatuh lantaran dimakan Chodot, binatang malam jenis kelelawar.“Dari kebiasaan inilah, saya akhirnya dipanggil Chodot oleh banyak orang. Awalnya saya sempat nangis, tetapi lama-lama jadi terbiasa sampai sekarang,” katanya sembari tertawa.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler