Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


“Beberapa bulan lalu, kita mulai mencoba budaya bibit pisang lewat jaringan kultur. Sekarang ini sudah berhasil meski jumlahnya terbatas dan akan terus kita perbanyak lagi,” kata Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto.

Menurut Edhie, proses pembuatan bibit pisang lewat jaringan kultur itu cukup rumit dan butuh kesabaran. Dijelaskan, tahap awal pembuatannya adalah mencari titik tumbuh pada batang pisang yang sudah dewasa.

Titik tumbuh hanya butuh sedikit saja, seukuran jari tangan. Kemudian, titik tumbuh ini dicacah agak lembut dan direndam dalam larutan agar (gel) khusus dan disterilkan.

Setelah dibiarkan 1-2 minggu akan mulai terlihat pertumbuhan dengan munculnya kecambah. Selanjutnya, kecambah yang tumbuh dipisahkan satu persatu dalam botol plastik yang masih diberi larutan agar berisi kombinasi bahan kimia.

Pada tahap ini, tiap botol sudah berisi satu kecambah dan dibiarkan tumbuh sampai usia 3 bulan, sampai terlihat sudah muncul batang dan daun. Setelah itu, baru dipindahkan ke polibag dengan media tanam selama 6 bulan.

“Selain rumit, prosesnya juga cukup panjang. Untuk bisa ditanam pada lahan, setidaknya butuh waktu 9 bulan,” jelas Edhie didampingi Kabid Hortikultura Imam Sudigdo.Meski rumit, namun pembuatan bibit pisang dengan kultur jaringan dinilai punya beberapa keuntungan. Antara lain, bisa menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan.Dengan kondisi ini, nantinya tanaman di lahan akan punya umur yang seragam dan memudahkan penanganan. Sebab, selain umur, kualitas bibitnya hampir sama.Hal ini berbeda jika bibit pisang diambilkan dari anakan pisang yang tumbuh alami. Sebab, untuk mendapatkan anakan pisang harus menunggu cukup lama dan jumlahnya juga tidak banyak. Sehingga jika ingin melakukan tanam serempak pada satu lahan yang luas agak kesulitan.“Lewat jaringan kultur ini, kualitas bibit pisang bisa diminimalkan dari penyakit turunannya. Sebab, indukan pisang yang akan dipakai untuk pembuatan jaringan kultur itu sudah kita seleksi dulu. Pengembangan jaringan kultur pisang ini kita lakukan bekerja sama dengan Balai Benih Hortikultura Magelang,” sambung Edhie.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler