Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Keajaiban ini bukan berupa berdirinya sebuah bangunan kuno tetapi adanya sebuah sentra produksi garam yang ada di situ.Keberadaan sentra garam ini bisa dikatakan sebuah keajaiban karena tidak banyak dimiliki daerah lain. Lazimnya, produksi garam dilakukan di pinggiran laut atau pesisir.

Tetapi, wilayah Grobogan termasuk Desa Jono jaraknya puluhan kilometer dari Laut Utara. Kemudian, dari Laut Pantai Selatan jaraknya malah mencapai ratusan kilometer.

Desa Jono sendiri letaknya sekitar 15 km di sebelah timur Kota Purwodadi. Dari jalan raya Purwodadi-Blora, lokasi Desa Jono ini bisa terlihat jelas. Sebab, gapura masuk desa berada di sebelah selatan jalan raya.

Pada gapura tersebut terlihat jelas identitas Desa Jono sebagai penghasil garam. Sebab, di bagian atasnya ada tulisan yang berbunyi ‘Desa Jono (Kota) Garam’.

“Produksi garam selama ini sudah jadi ikon Desa Jono. Makanya, identitas ini kami pasang pada gapura masuk desa biar diketahui banyak orang,” kata Kepala Desa Jono Eka Winarna.

Lokasi pembuatan garam ini tidak terlalu jauh dari jalan raya Purwodadi-Blora. Dari gapura, masuk ke selatan sekitar 1 km saja, di sebelah timur jalan desa.Tempat pembuatan garam berada di areal terbuka dan bisa dilihat dari pinggir jalan. Di situ terdapat banyak gubug dan areal penjemuran garam yang ditempatkan pada belahan bambu.Jika ingin melihat lebih jelas bisa masuk ke sentra garam tersebut. Setiap hari, dari pagi hingga sore, bisa disaksikan kesibukan para petani garam melakukan aktivitas rutinnya.Aktivitas di situ paling ramai jika cuaca cerah dan matahari bersinar terik. Hal ini terjadi lantaran proses pembuatan garam itu dilakukan secara alami dengan mengandalkan bantuan sinar matahari.“Kalau cuaca hujan, suasana disentra garam relatif sepi. Soalnya, tidak ada aktivitas yang bisa dilakukan para petani garam,” imbuh Eka.Menurut Eka, pembuatan garam di Desa Jono itu tidak diketahui pasti kapan dimulai. Dari cerita orang tua, proses pembuatan garam sudah berlangsung ratusan tahun. Di perkirakan, sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dulu.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler