Tidak hanya itu, Ulfa juga sempat membeli sebuah buku cerpen best seller untuk ditunjukkan pada siswa. Dari buku tersebut, siswa dimotivasi jika bisa menghasilkan uang dengan jadi penulis.
Setelah bekal pengetahuan yang diberikan cukup, para siswa kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Terdiri dari 4 sampai 5 siswa per kelompok. Tema yang bisa ditulis bisa diangkat dari kisah pribadi atau kehidupan orang lain.
Pada tahap awal, hasil karyanya sangat sederhana. Soalnya, cerpen yang dihasilkan siswa masih dituangkan pada kertas buku tulis biasa dan tulisannya masih pakai pulpen. Dalam proses pembuatan cerpen, selain memimbing Ulfa juga bertindak sebagai editing.
Hasil tulisan siswa kemudian disatukan dan dijilid hingga menjadi sebuah buku. Saat berkunjung ke perpustakaan sekolah, koleksi buku cerpen dengan tulisan tangan itu masih ada.
“Ini contoh buku cerpen pada edisi awal. Kertasnya masih pakai lembaran buku tulis dan ditulisnya pakai puplen,” kata Ulfa sambil menunjukkan buku cerpen kenangan tersebut.
Dibuatnya buku cerpen seperti itu bukan disengaja. Tetapi mengingat kondisi waktu itu belum banyak mesin ketik atau komputer seperti sekarang. Kalaupun ada, saat itu juga masih kesulitan untuk mencari orang yang bisa mengoperasikan.
“Meski banyak keterbatasan namun kami tidak patah semangat untuk bisa menghasilkan sebuah karya. Kalau dilihat sepintas buku ini mirip kliping. Padahal, isinya kumpulan cerpen,” kata Ulfa sembari tertawa.
Setelah ada komputer, siswa tidak lagi menggunakan pulpen untuk menulis karyanya. Hasil tulisan sudah diprint kemudian dijilid seperti edisi sebelumnya sehingga bentuknya masih mirip kliping atau makalah.
Pada beberapa tahun berikutnya, buku yang dihasilkan coba dibikin lain biar lebih menarik. Seperti memperkecil ukuran kertasnya dan dikasih cover warna dari kertas yang diprint.
“Cetakan kali ini, hasilnya memang lebih menarik. Namun, tidak lama kemudian ada permasalahan lagi. Cover warna buku ternyata jadi luntur karena sering dipegangi ketika dibaca. Ini, kebetulan ada contoh buku edisi lama yang covernya luntur,” sambung Ulfa.Baru pada tiga tahun terakhir, para siswa diminta mencetak buku cerpen di percetakan lokal yang ada di sekitar wilayah Kecamatan Tawangharjo. Setelah melibatkan percetakan lokal, kualitas bukunya jadi lebih baik dan cover warnanya juga tidak mudah luntur.Semua biaya pembuatan buku cerpen ditanggung tiap kelompok. Makanya, pihak sekolah meminta tiap kelompok hanya mencetak satu buku saja biar tidak membebani mereka. “Rencananya, pihak sekolah akan memperbanyak lagi buku yang dihasilkan siswa untuk ditempatkan di perpustakaan sekolah. Tahap awal, akan kita pilih buku-buku yang jadi favorit pembaca. Atau bisa juga akan kita unggah dalam website sekolah dalam format E-book,” imbuh guru berkaca mata itu.Ulfa menambahkan, sebelumnya dia memang sempat yakin jika anak didiknya mampu membuat sebuah cerpen. Sebab, seringkali dia mendapati tulisan berisi curhatan siswa yang ditulis dalam buku tugas sekolah.Dari situ, kemudian dia menyarankan agar siswa membuat sebuah buku harian khusus yang berisi ungkapan yang ingin dituliskan. Berawal dari sinilah, salah satu bekal untuk menulis cerpen dimiliki siswa secara tidak langsung.Sementara itu, Kepala Madrasah Aliyah Sunniyyah Selo Moh Nur Cholis menyatakan, sebelum membuat buku cerpen, siswa MA Sunniyyah Selo sempat diwajibkan membuat sebuah karya tulis dari hasil kegiatan yang dilakukan. Misalnya, tentang kegiatan wisata yang tiap tahun dilakukan.Namun, pembuatan karya tulis ini dirasakan tidak maksimal. Sebab, sebagian besar siswa bisa menjiplak tulisan tentang kegiatan pariwisata tersebut dari berbagai sumber.“Dari sinilah salah satu alasan untuk kita alihkan untuk membikin sebuah buku cerpen. Hal ini menjadikan sebuah tantangan baru dan ternyata para siswa merespon positif,” katanya.
Editor : Kholistiono
Murianews,Grobogan - Upaya pembuatan buku cerpen oleh siswa mulai dirintis guru bahasa Indonesia kelas XII Ulfa Fauziyah MA Sunniyyah Selo, Grobogan sekitar tahun 2005. Sebelumnya, berbagai pembekalan diberikan pada siswa. Mulai dari teori, cara menulis, bikin daftar isi dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan menulis buku.
Tidak hanya itu, Ulfa juga sempat membeli sebuah buku cerpen best seller untuk ditunjukkan pada siswa. Dari buku tersebut, siswa dimotivasi jika bisa menghasilkan uang dengan jadi penulis.
Setelah bekal pengetahuan yang diberikan cukup, para siswa kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Terdiri dari 4 sampai 5 siswa per kelompok. Tema yang bisa ditulis bisa diangkat dari kisah pribadi atau kehidupan orang lain.
Pada tahap awal, hasil karyanya sangat sederhana. Soalnya, cerpen yang dihasilkan siswa masih dituangkan pada kertas buku tulis biasa dan tulisannya masih pakai pulpen. Dalam proses pembuatan cerpen, selain memimbing Ulfa juga bertindak sebagai editing.
Hasil tulisan siswa kemudian disatukan dan dijilid hingga menjadi sebuah buku. Saat berkunjung ke perpustakaan sekolah, koleksi buku cerpen dengan tulisan tangan itu masih ada.
“Ini contoh buku cerpen pada edisi awal. Kertasnya masih pakai lembaran buku tulis dan ditulisnya pakai puplen,” kata Ulfa sambil menunjukkan buku cerpen kenangan tersebut.
Dibuatnya buku cerpen seperti itu bukan disengaja. Tetapi mengingat kondisi waktu itu belum banyak mesin ketik atau komputer seperti sekarang. Kalaupun ada, saat itu juga masih kesulitan untuk mencari orang yang bisa mengoperasikan.
“Meski banyak keterbatasan namun kami tidak patah semangat untuk bisa menghasilkan sebuah karya. Kalau dilihat sepintas buku ini mirip kliping. Padahal, isinya kumpulan cerpen,” kata Ulfa sembari tertawa.
Setelah ada komputer, siswa tidak lagi menggunakan pulpen untuk menulis karyanya. Hasil tulisan sudah diprint kemudian dijilid seperti edisi sebelumnya sehingga bentuknya masih mirip kliping atau makalah.
Pada beberapa tahun berikutnya, buku yang dihasilkan coba dibikin lain biar lebih menarik. Seperti memperkecil ukuran kertasnya dan dikasih cover warna dari kertas yang diprint.
“Cetakan kali ini, hasilnya memang lebih menarik. Namun, tidak lama kemudian ada permasalahan lagi. Cover warna buku ternyata jadi luntur karena sering dipegangi ketika dibaca. Ini, kebetulan ada contoh buku edisi lama yang covernya luntur,” sambung Ulfa.
Baru pada tiga tahun terakhir, para siswa diminta mencetak buku cerpen di percetakan lokal yang ada di sekitar wilayah Kecamatan Tawangharjo. Setelah melibatkan percetakan lokal, kualitas bukunya jadi lebih baik dan cover warnanya juga tidak mudah luntur.
Semua biaya pembuatan buku cerpen ditanggung tiap kelompok. Makanya, pihak sekolah meminta tiap kelompok hanya mencetak satu buku saja biar tidak membebani mereka.
“Rencananya, pihak sekolah akan memperbanyak lagi buku yang dihasilkan siswa untuk ditempatkan di perpustakaan sekolah. Tahap awal, akan kita pilih buku-buku yang jadi favorit pembaca. Atau bisa juga akan kita unggah dalam website sekolah dalam format E-book,” imbuh guru berkaca mata itu.
Ulfa menambahkan, sebelumnya dia memang sempat yakin jika anak didiknya mampu membuat sebuah cerpen. Sebab, seringkali dia mendapati tulisan berisi curhatan siswa yang ditulis dalam buku tugas sekolah.
Dari situ, kemudian dia menyarankan agar siswa membuat sebuah buku harian khusus yang berisi ungkapan yang ingin dituliskan. Berawal dari sinilah, salah satu bekal untuk menulis cerpen dimiliki siswa secara tidak langsung.
Sementara itu, Kepala Madrasah Aliyah Sunniyyah Selo Moh Nur Cholis menyatakan, sebelum membuat buku cerpen, siswa MA Sunniyyah Selo sempat diwajibkan membuat sebuah karya tulis dari hasil kegiatan yang dilakukan. Misalnya, tentang kegiatan wisata yang tiap tahun dilakukan.
Namun, pembuatan karya tulis ini dirasakan tidak maksimal. Sebab, sebagian besar siswa bisa menjiplak tulisan tentang kegiatan pariwisata tersebut dari berbagai sumber.
“Dari sinilah salah satu alasan untuk kita alihkan untuk membikin sebuah buku cerpen. Hal ini menjadikan sebuah tantangan baru dan ternyata para siswa merespon positif,” katanya.
Editor : Kholistiono