Di tempat ini, ada satu pohon juwet yang berukuran cukup besar dan tingginya sekitar enam meter. Kebetulan, saat ini, pohonnya sedang mengeluarkan buah dan sebagian besar sudah masak.
Meski begitu, buah yang rasanya cukup enak itu tampaknya tidak begitu disuka. Indikasinya, banyak buah juwet yang sudah masak berjatuhan di bawah pohon yang berada di depan kelas XII-IPA5 itu.
Beberapa siswa ketika ditanyakan soal pohon itu mengaku tidak tahu. Bahkan, ada juga yang baru tahu kalau buah juwet itu ternyata bisa dimakan.“Saya baru tahu kalau buah itu ternyata bisa dimakan. Saya kira ini pohon penghijauan biasa,” kata Rani, salah satu siswi sekolah itu.
Ternyata tidak semua siswa asing dengan pohon juwet itu. Beberapa orang mengaku sering mengambil buah yang jatuh dan memakannya.“Saya suka buah juwet ini. Rasanya manis campur masam. Saya tahu tanaman ini buahnya bisa dimakan karena simbah saya dulu punya tanaman juwet,” kata Bagus, siswa lainnya.
Kepala SMAN 1 Purwodadi Amin Hidayat menyatakan, untuk penghijauan lingkungan sekolah, sejak beberapa tahun lalu ditanam aneka pohon. Salah satunya, adalah pohon juwet yang saat ini sudah termasuk langka.
“Pohon juwet itu umurnya mungkin hampir 10 tahunan. Dengan adanya pohon itu secara tidak langsung bisa jadi edukasi siswa mengenai tanaman yang sudah masuk kategori langka. Sebagian siswa memang belum tahu tetapi kalau jam istirahat saya lihat banyak juga yang memetik juwet ramai-ramai,” katanya.Dari informasi yang didapat, pada belasan tahun lalu, keberadaan pohon juwet dengan mudah bisa didapatkan. Soalnya, waktu itu masih banyak orang yang memiliki pohon juwet. Biasanya, pohon ini terdapat di pekarangan rumah.Seiring perjalanan waktu, keberadaan pohon juwet ini mulai sudah dijumpai. Pohon-pohon yang ditanam mulai ditebangi. Salah satu alasannya, buah juwet sudah tidak diminati lagi, lantaran orang lebih memilih buah jenis lainnya. Karena kondisi inilah, pohon juwet akhirnya ditebang dan digantikan dengan tanaman buah lainnya.“Dulu di desa ini banyak warga yang punya pohon juwet. Sekarang kayaknya sudah tidak ada lagi. Tanaman buah yang banyak ganti mangga sama pisang,” kata Agus Triyono, warga Krangganharjo, Kecamatan Toroh.
Editor : Kholistiono
Murianews,Grobogan - Meski sudah susah ditemui, namun keberadaan pohon juwet atau jamblang masih bisa didapat. Salah satunya, di halaman belakang SMAN 1 Purwodadi, sebelah utara lapangan basket.
Di tempat ini, ada satu pohon juwet yang berukuran cukup besar dan tingginya sekitar enam meter. Kebetulan, saat ini, pohonnya sedang mengeluarkan buah dan sebagian besar sudah masak.
Meski begitu, buah yang rasanya cukup enak itu tampaknya tidak begitu disuka. Indikasinya, banyak buah juwet yang sudah masak berjatuhan di bawah pohon yang berada di depan kelas XII-IPA5 itu.
Beberapa siswa ketika ditanyakan soal pohon itu mengaku tidak tahu. Bahkan, ada juga yang baru tahu kalau buah juwet itu ternyata bisa dimakan.“Saya baru tahu kalau buah itu ternyata bisa dimakan. Saya kira ini pohon penghijauan biasa,” kata Rani, salah satu siswi sekolah itu.
Ternyata tidak semua siswa asing dengan pohon juwet itu. Beberapa orang mengaku sering mengambil buah yang jatuh dan memakannya.“Saya suka buah juwet ini. Rasanya manis campur masam. Saya tahu tanaman ini buahnya bisa dimakan karena simbah saya dulu punya tanaman juwet,” kata Bagus, siswa lainnya.
Kepala SMAN 1 Purwodadi Amin Hidayat menyatakan, untuk penghijauan lingkungan sekolah, sejak beberapa tahun lalu ditanam aneka pohon. Salah satunya, adalah pohon juwet yang saat ini sudah termasuk langka.
“Pohon juwet itu umurnya mungkin hampir 10 tahunan. Dengan adanya pohon itu secara tidak langsung bisa jadi edukasi siswa mengenai tanaman yang sudah masuk kategori langka. Sebagian siswa memang belum tahu tetapi kalau jam istirahat saya lihat banyak juga yang memetik juwet ramai-ramai,” katanya.
Dari informasi yang didapat, pada belasan tahun lalu, keberadaan pohon juwet dengan mudah bisa didapatkan. Soalnya, waktu itu masih banyak orang yang memiliki pohon juwet. Biasanya, pohon ini terdapat di pekarangan rumah.
Seiring perjalanan waktu, keberadaan pohon juwet ini mulai sudah dijumpai. Pohon-pohon yang ditanam mulai ditebangi. Salah satu alasannya, buah juwet sudah tidak diminati lagi, lantaran orang lebih memilih buah jenis lainnya. Karena kondisi inilah, pohon juwet akhirnya ditebang dan digantikan dengan tanaman buah lainnya.
“Dulu di desa ini banyak warga yang punya pohon juwet. Sekarang kayaknya sudah tidak ada lagi. Tanaman buah yang banyak ganti mangga sama pisang,” kata Agus Triyono, warga Krangganharjo, Kecamatan Toroh.
Editor : Kholistiono