“Seperti diketahui, aliran air Kali Senthe ini masuknya ke Sungai Lusi. Kalau Sungai Lusi penuh maka airnya meluap ke perkampungan. Nanti kalau debit Sungai Lusi turun maka airnya langsung menghilang,” katanya.
Selain di wilayah Grobogan, banjir juga terjadi di Kecamatan Geyer. Tepatnya, di seberang jembatan gantung yang menghubungkan Desa Suru dan Sobo.
Akibat banjir ini, akses menuju dua desa menjadi terganggu. Terutama bagi pengendara sepeda motor.
“Banjir di sekitar jembatan gantung hanya menggenangi jalan dan areal yang rendah saja. Untuk sementara tidak ada rumah warga yang kemasukan air,” terang Camat Geyer Aries Ponco.
Selanjutnya, bencana banjir juga sempat melanda dua desa di wilayah Kecamatan Brati. Masing-masing, Desa Tirem dan Lemahputih.
Di kedua desa ini, sekitar 100 rumah yang kebanjiran dengan ketinggian 20-40 cm. Kemudian, areal perawahan yang ada tanaman padi juga banyak yang tergenang.
“Pendataan bencana banjir masih kita lakukan. Namun, saat ini, air sudah mulai surut,” kata Camat Brati Bambang Lunto.Diketahui, hujan yang mengguyur wilayah Grobogan sejak Kamis (29/12/2016) malam hingga Jumat (30/12/2016) siang menyebabkan bencana banjir di berbagai tempat. Meski tidak berlangsung lama, namun banjir yang melanda ini sempat bikin panik warga.Dari pantauan lapangan, bencana banjir paling parah berada di Kecamatan Grobogan. Di wilayah ini sedikitnya ada empat desa yang dilanda bancana banjir. Yakni, Desa Tanggungharjo, Teguhan, Lebak dan Putatsari.Kemudian, wilayah yang terkena banjir juga berada di Kelurahan Grobogan. Terutama di Kampung Pucang.Dalam musibah ini, ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air setinggi 10 cm sampai satu meter. Selain itu, air yang meluap dari Kali Senthe juga menerjang areal pertanian.
Editor : Akrom Hazami
Murianews, Grobogan - Camat Grobogan Amir Syarifuddin ketika dimintai komentarnya soal banjir menyatakan, beberapa desa di wilayahnya memang selalu langganan banjir setiap hujan deras datang. Namun, banjir yang menerjang biasanya tidak belangsung lama. Sekitar 1-3 jam sudah mulai surut seiring menurunnya debit Sungai Lusi.
“Seperti diketahui, aliran air Kali Senthe ini masuknya ke Sungai Lusi. Kalau Sungai Lusi penuh maka airnya meluap ke perkampungan. Nanti kalau debit Sungai Lusi turun maka airnya langsung menghilang,” katanya.
Selain di wilayah Grobogan, banjir juga terjadi di Kecamatan Geyer. Tepatnya, di seberang jembatan gantung yang menghubungkan Desa Suru dan Sobo.
Akibat banjir ini, akses menuju dua desa menjadi terganggu. Terutama bagi pengendara sepeda motor.
“Banjir di sekitar jembatan gantung hanya menggenangi jalan dan areal yang rendah saja. Untuk sementara tidak ada rumah warga yang kemasukan air,” terang Camat Geyer Aries Ponco.
Selanjutnya, bencana banjir juga sempat melanda dua desa di wilayah Kecamatan Brati. Masing-masing, Desa Tirem dan Lemahputih.
Di kedua desa ini, sekitar 100 rumah yang kebanjiran dengan ketinggian 20-40 cm. Kemudian, areal perawahan yang ada tanaman padi juga banyak yang tergenang.
“Pendataan bencana banjir masih kita lakukan. Namun, saat ini, air sudah mulai surut,” kata Camat Brati Bambang Lunto.
Diketahui, hujan yang mengguyur wilayah Grobogan sejak Kamis (29/12/2016) malam hingga Jumat (30/12/2016) siang menyebabkan bencana banjir di berbagai tempat. Meski tidak berlangsung lama, namun banjir yang melanda ini sempat bikin panik warga.
Dari pantauan lapangan, bencana banjir paling parah berada di Kecamatan Grobogan. Di wilayah ini sedikitnya ada empat desa yang dilanda bancana banjir. Yakni, Desa Tanggungharjo, Teguhan, Lebak dan Putatsari.
Kemudian, wilayah yang terkena banjir juga berada di Kelurahan Grobogan. Terutama di Kampung Pucang.
Dalam musibah ini, ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air setinggi 10 cm sampai satu meter. Selain itu, air yang meluap dari Kali Senthe juga menerjang areal pertanian.
Editor : Akrom Hazami