Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Petilasan Sunan Ngudung di Desa Cingkrong berada di depan rumah warga bernama Mbah Yahyo yang sekaligus merupakan juru kunci. Di pekarangan depan rumahnya sebelah kiri, terdapat bangunan kecil seperti pos kampling berukuran 2,5 x 2,5 meter. Di sinilah letak petilasan Sunan Ngudung.

Saat pintu bangunan dari bahan tembok ini dibuka, tampak didalamnya ada dua patok atau nisan dari kayu. Sepintas, mirip patok yang ada di pemakaman. Di atas lantai digelar karpet warna hijau.

“Di sinilah petilasan dari Sunan Ngudung. Meski ada patok tetapi ini bukan makam beliau. Patok ini hanya sebagai tanda supaya petilasan mudah dikenali saja,” kata Mbah Yahyo.

Menurutnya, dari cerita yang didengar, nama Sunan Ngudung adalah putra Sunan Gresik yang bernama asli Raden Usman Haji. Sunan Ngudung diangkat sebagai imam masjid Demak sekitar tahun1520. Dalam kurun waktu itu, Sunan Ngudung juga ikut melancarkan dakwah Islam di daerah sekitar Demak.

Sunan Ngudung menikah dengan Nyi Ageng Maloka putri Sunan Ampel. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putra bernama Raden Amir Haji atau Jakfar Shadiq alias Sunan Kudus. 

Yahyo tidak tahu persis apa yang ada di bawah patok petilasan tersebut. Ada beberapa versi cerita dari leluhurnya. Ada yang menyatakan jika di dalam tanah di bawah patok terdapat barang Sunan Ngudung yang tertinggal.“Katanya ada pusaka atau jubahnya yang ketinggalan. Ada yang menyatakan jika di bawah patok, dulunya merupakan tanah yang sempat kena ceceran darah Sunan Ngudung ketika terluka saat berhadapan dengan musuh dari Majapahit. Terlepas apa barangnya,  yang pasti Sunan Ngudung memang pernah sampai ke kampung ini,” jelas pria berusia 60 tahun tersebut.Petilasan tersebut sudah ada ratusan tahun lalu. Dulunya hanya dikasih pagar keliling dari bambu. Baru pada beberapa tahun lalu ditutup bangunan dari tembok bata.“Selama ini, sudah banyak orang yang ziarah kesini. Ada yang dari Jawa Timur, Solo, Semarang dan Jogjakarta. Paling ramai kalai malam Jumat Kliwon bulan Muharam atau Suro,” imbuhnya.Editor : Akrom Hazami 

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler