Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Wargono tinggal di sentra pande besi di Dusun Tahunan, Desa Putatsari, Kecamatan/Kabupaten Grobogan. Di dusun tersebut ada ratusan pande besi. Sehari-hari, para pande besi tersebut kebanyakan membuat alat pertanian dan rumah tangga. Seperti cangkul, sabit, bendo dan pisau.

Di antara pande besi, Wargono termasuk paling senior. Tidak hanya itu saja, menurut cerita orang tuanya, leluhur Wargono dulunya masih merupakan garis keturunan Empu Supa. Seorang ahli pembuat keris pusaka pada era Mataram kuno dan juga salah satu murid dari Sunan Kalijaga.

“Saya ini termasuk generasi keenam dari leluhur yang jadi pande besi di sini. Saya sudah sejak anak-anak sudah membantu orang tua yang juga jadi pande besi. Keahlian pande besi ini didapat secara turun temurun,” terangnya.

[caption id="attachment_120520" align="aligncenter" width="565"] Wargono, memperlihatkan hasil pekerjaannya sebagai pande besi di Dusun Tahunan, Desa Putatsari, Kecamatan/Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)[/caption]

 
Pada awalnya, barang yang dibuat leluhur pande besi di Dusun Tahunan tidak berupa alat pertanian atau peralatan rumah tangga. Tetapi, berwujud pusaka, seperti keris dan mata tombak. Pada ratusan tahun lalu, leluhur pande besi di Tahunan merupakan orang kepercayaan untuk membuatkan pusaka Kadipaten Grobogan. Tepatnya, ketika Kadipaten Grobogan masih berpusat di Kecamatan Grobogan dan belum pindah ke Purwodadi.Seiring perjalanan waktu, sudah tidak ada lagi orang yang bikin pusaka. Sekarang. “Kalau simbah saya masih bikin keris. Tetapi, oleh bapak, saya boleh jadi pande besi tetapi dilarang bikin keris. Makanya, saya tidak berani melanggar pesan ini sampai sekarang,” katanya.Keahlian pande besi ternyata juga menurun pada putranya Miftakhul Huda (32). Sejak kecil, putranya sudah mulai dilatih menjadi seorang pande besi andal. Bahkan, produk Huda saat ini sudah dikenal banyak orang karena barang yang dibikin beda dengan lainnya. Yakni, pisau berpamor atau memiliki motif seperti sebuah ukiran. Seperti yang biasa terdapat pada sebilah keris pusaka. “Kalau bikin pacul atau sabit juga bisa. Tetapi, lebih banyak bikin pisau pamor,” imbuh pria berkaca mata tebal itu. Editor : Akrom Hazami 

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler