Makin Digemari, Usaha Jualan Es Dawet Ireng Kian Prospek di Grobogan
Dani Agus
Sabtu, 15 Juli 2017 08:00:55
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Dawet ireng ini rasanya tidak beda jauh dengan dawet lainnya. Bedanya, cendol yang disajikan warnanya hitam atau dalam Bahasa Jawa disebut ireng. Kebanyakan, dawet lainnya cendolnya berwarna hijau atau merah. “Bahan pembuatan cendol ini sama dengan dawet lainnya. Bedanya cuma warnanya saja,” kata Arifin, salah seorang penjual dawet ireng yang mangkal di jalan R Suprapto Purwodadi.
Cendol atau butiran dawet bisa berwarna hitam karena dikasih pewarna alami. Yakni, dari abu hasil pembakaran jerami yang dicampur dengan air sehingga menghasilkan warna hitam. Air inilah yang kemudian digunakan sebagai pewarna dawet.
Arifin berjualan dawet ireng sekitar dua tahun lalu. Awalnya, pembelinya masih sedikit karena belum familiar. Seiring perjalanan waktu, jumlah pelanggannya makin bertambah. “Awalnya, saya jualan keliling. Setelah banyak pelanggan, saya pilih mangkal di pinggir jalan supaya mudah dicari pelanggan,” jelasnya.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



