Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Tugal khusus yang ujungnya runcing seperti tombak ini dibuat dari pipa besi berukuran 0,5 inchi. Panjang tugal sekitar 1,5 meter dan pada bagian atasnya diberi pegangan.

Alat sederhana juga dilengkapi sebuah pijakan berlubang yang posisinya sekitar 30 cm dari atas mata tugal. Pijakan ini berfungsi sebagai rembesan air untuk memudahkan tugal saat ditancapkan ke dalam tanah serta menjaga kelembaban yang diperlukan buat menunjang pertumbuhan tanaman jagung.

Saat kondisi kering, titik tancapan tugal ditempatkan pada sela-sela tanah yang merekah atau dalam Bahasa Jawa disebut nelo. Kedalaman tancapan tugal bisa mencapai 30 cm.

Setelah lubang dibuat, benih jagung dimasukkan kedalamnya dan ditutup tipis-tipis. Tujuannya agar benih jagung yang tumbuh bisa lebih mudah menembus lubang tanam.  Petumbuhan awal tanaman akan terlihat sekitar 7 hari setelah tanam (HST). Pada fase awal, tanaman jagung terlihat seperti rumput. Namun, pada usia 14 HST, kondisi tanaman akan berangsur-angsur normal dan tampak kokoh ketika sudah menembus rekahan tanah serta terkena sinar matahari.

Setelah dipupuk dengan kocoran pada 21 HST, batang tanaman akan terisi dengan sempurna. Selanjutnya tanaman jagung dikocor sekali lagi pada umur 35 HST dan setelah itu tinggal menunggu masa panen.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto mengungkapkan, areal tanam jagung di lahan yang tanahnya merekah pada musim kemarau itu luasnya sekitar 40 ribu hektar yang tersebar di beberapa kecamatan. Menurutnya, pada musim kemarau seperti itu, petani mengoptimalkan pemanfaatan lahannya dengan merekayasa irigasi sistim kocor.“Dengan rekayasa ini, pengocoran yang biasanya dilakukan 4 kali bisa berkurang jadi 2 kali saja. Oleh sebab itu, di Grobogan tetap memiliki areal jagung yang cukup luas saat kemarau,” jelasnya.Edhie menambahkan, jagung merupakan salah satu komoditas andalan di Grobogan. Setiap tahun, luas panen jagung di Grobogan sekitar 120 ribu hektar dengan produktivitas rata-ratanya mencapai 6 ton per hektar.“Produksi jagung setiap tahun totalnya mencapai 720 ribu ton. Dengan capaian ini, Grobogan menyumbang lebih dari 20 persen prdiksi jagung di Jawa Tengah,” jelasnya. Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler