Jelang Panen Raya, Petani Kedelai di Grobogan Khawatirkan Kondisi Cuaca. Ini Sebabnya?
Dani Agus
Sabtu, 16 Desember 2017 18:00:41
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
“Kalau tidak ada panas matahari, akan berpengaruh pada kualitas kedelai. Jika panasnya kurang bagus maka kadelai yang habis dipanen sulit kering. Kondisi ini bisa berdampak pada harga jual karena kadar air kedelai jadi tinggi,” kata Muhtar, petani kedelai di Kecamatan Pulokulon, Sabtu (16/12/2017).
Panas matahari memang sangat diperlukan petani pasca panen. Sebab, setelah dipetik dari sawah, hasil panen kedelai butuh dijemur dulu hingga kering.
Setelah kering maksimal, maka biji kedelai bisa lebih mudah dikeluarkan dari kulitnya atau dipipil. Proses pemipilan bisa dilakukan secara manual atau menggunakan mesin pemipil.
Jika kondisi cuaca kurang panas maka kulit kedelai sulit kering. Kondisi ini terkadang bisa menyebabkan biji kedelai tidak bisa berwarna jernih karena muncul bintik-bintik hitam.
Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, luas areal kedelai tahun ini sekitar 23 ribu hektar. Sebagian besar areal kedelai ada di Kecamatan Purwodadi dan Pulokulon.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



