Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Blora Sri Rayahu menyatakan, kekeringan mulai terjadi sejak tiga bulan lalu. Dari 14 kecamatan yang wilayahnya mengalami kekeringan, ada satu kecamatan yang kondisinya paling parah. Yakni, Kecamatan Jati yang semua desa di wilayah itu terkena dampak kekeringan. Jumlahnya ada 12 desa.

“Terkait kondisi ini, kita sudah tetapkan status darurat bencana kekeringan. Penetapan status ini dilakukan menyusul makin banyaknya jumlah desa yang dilanda kekeringan,” jelasnya pada wartawan.

Menurutnya, untuk menanggulangi bencana kekeringan, pihaknya sudah mulai melakukan droping air bersih sejak satu bulan lalu. Bantuan air yang disalurkan sebanyak 50 tangki per hari. Bantuan air bersih diprioritaskan untuk desa yang kategori kekeringannya berat.
“Hingga hari ini, penyaluran bantuan air bersih masih terus kita lakukan. Puncak kekeringan kita perkirakan terjadi pada bulan Agustus ini,” jelas pejabat yang akrap dipanggil Yayuk itu.Ia menambahkan, untuk penanganan bencana kekeringan tahun ini, sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp 500 juta. Dana ini disiapkan untuk kegiatan yang berkaitan dengan penanganan bencana kekeringan, khususnya droping air bersih pada masyarakat.Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler