Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


“Kondisi sampai hari ini, sudah ada 87 desa yang mengalami dampak kekeringan. Desa sebanyak ini tersebar di 14 kecamatan,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Budi Prihantoro, Senin (27/8/2018).

Dampak kekeringan cukup parah terjadi di beberapa kecamatan. Yakni, Kecamatan Gabus, Geyer, Kradenan, Kedungjati dan Pulokulon. Sedangkan di Kecamatan lainnya, sebagian besar masih kategori sedang.

Terkait kondisi kekeringan itu, Budi menyatakan, pihaknya sudah mulai melakukan droping air bersih sejak dua bulan lalu. Hingga saat ini, bantuan air yang disalurkan sebanyak 288 tangki. Bantuan air bersih diprioritaskan untuk desa yang kategori kekeringannya berat.

“Hingga hari ini, penyaluran bantuan air bersih masih terus kita lakukan. Prioritasnya untuk yang berat dulu. Kekuatan droping per hari sekitar 9 sampai 12 tangki,” jelasnya.

Agus menambahkan, untuk penanganan bencana kekeringan tahun ini, sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp 175 juta. Dana ini disiapkan untuk kegiatan yang berkaitan dengan penanganan bencana kekeringan, khususnya droping air bersih pada masyarakat. Selain itu, kami juga menggandeng PMI, Baznas, Pengusaha melalui dana CSR, komunitas, dan instansi-instansi non pemerintahan.Sementara itu, terkait datangnya bencana kekeringan, sejumlah pihak meminta agar pasokan air dari waduk Kedungombo segera dibuka. Pasokan air sudah ditutup sejak awal Juli lalu dan dijadwalkan baru dibuka pertengahan September mendatang.Penutupan dalam kurun waktu hampir dua bulan itu memang sudah jadi agenda rutin tiap tahun. Mengingat saat ini kekeringan makin parah, banyak pihak berharap agar gelontoran air bisa dibuka lebih awal.“Salah satu solusi untuk mengatasi kekeringan adalah mengandalkan pasokan air dari Kedungombo. Jika air waduk sudah digelontorkan maka warga akan lebih mudah mendapatkan sumber air untuk mencukupi kebutuhan. Minimal bisa buat nyuci dan mandi atau minum ternak,” kata Nur Arifin, warga Kecamatan Toroh.Editor : Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler