Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Pagelaran wayang dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Grobogan ini, banyak penonton yang sempat dibikin kaget. Mereka ini tidak menyangka jika dalang yang piawai memainkan wayang kulit tersebut ternyata seorang perempuan.

Semula, dalang yang tampil dikira s eorang pria, seperti pagelaran biasanya. Mereka ini baru tahu setelah mendekat ke panggung supaya bisa melihat atraksi dalang dengan lebih jelas.

“Lho, dalangnya ternyata wedok (perempuan). Baru kali ini saya tahu kalau ada dalang wedok. Tadi tak kira dalangnya pria. Soalnya, suaranya juga seperti dalang biasanya,” kata beberapa penonton yang ada disisi selatan panggung.

Dalang wedok yang tampil memukau penonton itu adalah Nyi Wulan Sri Panjang Mas dari Wonogiri. Meski perempuan namun penampilannya memainkan adegan wayang tidak kalah dengan dalang pria.

Pagelaran wayang makin semarak dengan hadirnya dua bintang tamu. Yakni, pelawak Garang Salatiga dan Morista.

Pagelaran wayang kulit dibuka Sekretaris Daerah Grobogan Moh Sumarsono. Pembukaan ditandai dengan penyerahan tokoh wayang Srikandi pada Nyi Wulan Sri Panjang Mas.Dalam kesempatan itu, Moh Sumarsono menegaskan, hingga saat ini potensi dalang yang tergabung daam wadah Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Grobogan masih bisa ditingkatkan. Selama ini, dalang-dalang lokal itu masih mendapatkan kesempatan tampil rutin dalam ajang pentas wayang kulit di pendopo kabupaten yang digelar tiap malam Jumat Kliwon.Ia menambahkan, sejauh ini, animo warga untuk menyaksikan pagelaran kesenian tradisional itu masih cukup tinggi. Terbukti, dalam setiap pentas rutin tiap malam Jumat Kliwon di pendapa kabupaten masih ada ratusan warga yang datang menyaksikanpagelaran wayang hingga usai.“Pagelaran wayang seperti ini memang perlu kita lestarikan. Terutama pada generasi muda agar tahu kalau kita punya kesenian tradisional yang luar biasa,” ujarnya.Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler