Bencana Kekeringan di Grobogan Makin Parah, 117 Desa di 16 Kecamatan Krisis Air Bersih
Dani Agus
Rabu, 21 Agustus 2019 16:07:22
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Awal Agustus lalu, jumlah desa kekeringan baru berkisar 90 desa. Namun, saat ini, jumlahnya sudah bertambah jadi 117 desa yang tersebar di 15 kecamatan.
Dari 19 kecamatan yang ada, hanya wilayah Kecamatan Godong, Gubug, Tegowanu, dan Klambu yang relatif aman dari bencana kekeringan. Dibandingkan tahun sebelumnya, bencana kekeringan tahun ini dinilai paling parah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Endang Sulistyoningsih mengatakan, tingginya jumlah desa tersebut lantaran musim kemarau pada 2019 durasinya lebih panjang. Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemarau tahun ini akan mencapai November. Sedangkan, untuk puncak kemarau diprediksi akan terjadi pada September.
Endang menjelaskan, pihaknya sudah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 651 tangki ke desa yang terdampak kekeringan. Dalam penyaluran air bersih ini, pihaknya sempat terkendala dengan terbatasnya armada. Selama ini, pelaksanaan droping air bersih dilakukan dengan menggunakan armada PDAM dan ada dukungan juga dari PMI Grobogan.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



