Cerita Dua Monumen di Blora Jadi Saksi Gugurnya Polisi dalam Insiden PKI
Dani Agus
Selasa, 9 Juni 2020 21:00:07
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Di antaranya adalah monumen Tugu Bhayangkara di Kecamatan Ngawen, dan Monumen Agil Kusumodiyo di Kecamatan Randublatung.
Meski sudah lama berdiri, namun masih banyak masyarakat yang belum tahu cerita di balik pembangunan dua tempat bersejarah tersebut.
Tugu Bhayangkara berada di depan kantor Kecamatan Ngawen. Tugu ini juga terkenal dengan nama Tugu Bhayangkara Susamarbusu tersebut.
Tugu ini dibangun untuk mengenang wafatnya lima anggota Polri pada masa-masa pemberontakan PKI.
Nama ‘Susamarbusu’ diambilkan dari kependekan nama kelima Bhayangkara Polri yang gugur saat peristiwa G30S/PKI.
Yakni, Brigadir Polisi Soeratman, AP Kelas III Sjamsoedin, AP Kelas III Martodidjojo, AP Kelas III Boediman dan AP Kelas III Soekardi. Jasad kelima bhayangkara ini ditemukan dalam sumur di wilayah tersebut.
Selain Tugu Bhayangkara di Kecamatan Ngawen itu, nama Susamarbusu juga diabadikan sebagai nama klinik Polres Blora.
[caption id="attachment_189687" align="aligncenter" width="880"]
Monumen Agil Kusumodiyo di Blora dibangun sebagai penanda gugurnya dua putra bangsa saat Madiun Affair 1948. (MURIANEWS/Istimewa)[/caption]
Monumen Agil Kusumodiyo di Blora dibangun sebagai penanda gugurnya dua putra bangsa saat Madiun Affair 1948. (MURIANEWS/Istimewa)[/caption]Kemudian Monumen Agil Kusumodiyo merupakan tanda dan tugu peringatan peristiwa Madiun Affair 1948.Di mana, pada waktu itu telah gugur dua putra terbaik bangsa yakni AKBP Agil Kusumodiyo, yang saat itu menjabat Kapolwil Pati dan Kolonel Soenandar yang menjabat Danrem Pati.Keduanya diculik oleh anggota PKI dan dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan mendukung gerakan mereka.Namun keduanya bersikukuh menolak, sehingga akhirnya gugur di lokasi monumen tersebut. Selain dibangun monumen, kedua nama pahlawan tersebut juga diabadikan menjadi nama jalan protokol di Kabupaten Blora.Kapolres Blora AKBP Ferry Irawan melalui Kabag Sumda Kompol Rubiyanto mengungkapkan, kerja bakti di dua tempat bersejarah bagi Bhayangkara itu untuk mengenang dan meneladani pahlawan bangsa yang telah gugur demi negara.“Sekaligus sebagai implementasi menghargai para pahlawan kusuma bangsa. Bahwa kita ada dan bisa seperti ini adalah karena jasa mereka. Mari kita lanjutkan perjuangan mereka melalui pelaksanaan tugas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” katanya.Reporter: Dani AgusEditor: Ali Muntoha
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



