Ini telah dibuktikan oleh Winda Puspita Dewi, mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tengah menggelar KKN Covid-19 di Blora.
Winda bahkan sudah sempat membikin pelatihan cara membikin pupuk organik dari limbah nasi basi pada Kelompok Tani Sendang Tliko Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan, Blora, belum lama ini.
Menurut Winda, pelaksanaan KKN di masa pandemi ini berbeda dari sebelumnya. Winda memilih melangsungkan KKN di desanya sendiri, yakni Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan, Blora. “Peserta KKN di Desa Mojorembun ini hanya saya sendirian,” katanya.
Winda kemudian menjelaskan cara mengubah limbah nasi basi menjadi pupuk organik cair secara singkat.
Pertama-tama, nasi basi ditaruh dalam toples selama lima hari dan ditutup tidak terlalu rapat. Hal ini bertujuan supaya gas yang terbentuk dalam proses fermentasi dapat keluar dan terjadi sirkulasi udara.
Setelah nasi basi terfermentasi dalam lima hari, kemudian siapkan air gula dengan cara merebus 250 gram gula pasir dalam satu liter air. Setelah dingin, tuangkan air gula ke dalam toples nasi basi dan aduk hingga tercampur merata.
Selanjutnya, diamkan campuran nasi basi dan air gula tersebut selama satu pekan. Setelah i saring campuran tersebut.
Larutan yang dihasilkan dari penyaringan dicampur dengan air untuk dijadikan pupuk cair dan siap digunakan pada beragam jenis tanaman. Penggunaan pupuk cair ini dilakukan dengan cara dikocorkan pada tanaman.
“Indikator keberhasilan pembuatan pupuk cair bisa dicium dari baunya yang manis seperti tape. Sedangkan pembuatan pupuk yang gagal baunya seperti comberan,” jelasnya.
“Indikator keberhasilan pembuatan pupuk cair bisa dicium dari baunya yang manis seperti tape. Sedangkan pembuatan pupuk yang gagal baunya seperti comberan,” jelasnya.Menurut Winda, pelatihan ini dilaksanakan karena melihat fenomena yang terjadi di masyarakat. Di mana, masyarakat belum optimal dalam pengolahan limbah terutama limbah nasi basi, serta masih rendahnya penggunaan pupuk organik dalam budidaya tanaman.“Masyarakat secara umum hanya memanfaatkan limbah nasi basi sebagai pakan hewan ternak saja. Kemudian, penggunaan pupuk organik dalam budidaya tanaman selama ini juga masih rendah,” kata mahasiswa Fakultas Pertanian berusia 21 tahun itu.Dari kondisi itulah, Winda kemudian mencari cara untuk memanfaatkan nasi basi itu. Akhirnya, ia mendapat informasi jika ada yang sudah pernah membuat pupuk dari nasi basi itu.“Informasi ini saya tindaklanjuti dengan mencari referensi ke sejumlah pihak. Setelah itu, pembuatan pupuk organik cair dari nasi basi ini saya kenalkan pada kelompok tani di Desa Mojorembun. Ternyata responnya positif,” cetusnya.Sementara itu, Kepala Desa Mojorembun Moch Syaifudin Zuhri berharap, setelah ada pelatihan, petani diharapkan bisa memproduksi pupuk organik cair sendiri. Dengan adanya pupuk ini nantinya bisa membantu dalam menekan pengeluaran biaya operasional para petani.“Harapannya, setelah pelatihan ini, selanjutnya kita bisa membuat demplot atau kebun percontohan untuk melihat dampak yang dihasilkan dari tanaman setelah diberi pupuk organik cair tersebut,” pungkasnya. Reporter: Dani AgusEditor: Ali Muntoha
MURIANEWS, Blora - Nasi basi selama ini biasanya hanya dimanfaatkan untuk makanan ternak unggas, atau kadang hanya dibuang sia-sia. Siapa sangka, limbah ini ternyata bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair.
Ini telah dibuktikan oleh Winda Puspita Dewi, mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tengah menggelar KKN Covid-19 di Blora.
Winda bahkan sudah sempat membikin pelatihan cara membikin pupuk organik dari limbah nasi basi pada Kelompok Tani Sendang Tliko Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan, Blora, belum lama ini.
Menurut Winda, pelaksanaan KKN di masa pandemi ini berbeda dari sebelumnya. Winda memilih melangsungkan KKN di desanya sendiri, yakni Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan, Blora. “Peserta KKN di Desa Mojorembun ini hanya saya sendirian,” katanya.
Winda kemudian menjelaskan cara mengubah limbah nasi basi menjadi pupuk organik cair secara singkat.
Pertama-tama, nasi basi ditaruh dalam toples selama lima hari dan ditutup tidak terlalu rapat. Hal ini bertujuan supaya gas yang terbentuk dalam proses fermentasi dapat keluar dan terjadi sirkulasi udara.
Setelah nasi basi terfermentasi dalam lima hari, kemudian siapkan air gula dengan cara merebus 250 gram gula pasir dalam satu liter air. Setelah dingin, tuangkan air gula ke dalam toples nasi basi dan aduk hingga tercampur merata.
Selanjutnya, diamkan campuran nasi basi dan air gula tersebut selama satu pekan. Setelah i saring campuran tersebut.
Larutan yang dihasilkan dari penyaringan dicampur dengan air untuk dijadikan pupuk cair dan siap digunakan pada beragam jenis tanaman. Penggunaan pupuk cair ini dilakukan dengan cara dikocorkan pada tanaman.
“Indikator keberhasilan pembuatan pupuk cair bisa dicium dari baunya yang manis seperti tape. Sedangkan pembuatan pupuk yang gagal baunya seperti comberan,” jelasnya.
Menurut Winda, pelatihan ini dilaksanakan karena melihat fenomena yang terjadi di masyarakat. Di mana, masyarakat belum optimal dalam pengolahan limbah terutama limbah nasi basi, serta masih rendahnya penggunaan pupuk organik dalam budidaya tanaman.
“Masyarakat secara umum hanya memanfaatkan limbah nasi basi sebagai pakan hewan ternak saja. Kemudian, penggunaan pupuk organik dalam budidaya tanaman selama ini juga masih rendah,” kata mahasiswa Fakultas Pertanian berusia 21 tahun itu.
Dari kondisi itulah, Winda kemudian mencari cara untuk memanfaatkan nasi basi itu. Akhirnya, ia mendapat informasi jika ada yang sudah pernah membuat pupuk dari nasi basi itu.
“Informasi ini saya tindaklanjuti dengan mencari referensi ke sejumlah pihak. Setelah itu, pembuatan pupuk organik cair dari nasi basi ini saya kenalkan pada kelompok tani di Desa Mojorembun. Ternyata responnya positif,” cetusnya.
Sementara itu, Kepala Desa Mojorembun Moch Syaifudin Zuhri berharap, setelah ada pelatihan, petani diharapkan bisa memproduksi pupuk organik cair sendiri. Dengan adanya pupuk ini nantinya bisa membantu dalam menekan pengeluaran biaya operasional para petani.
“Harapannya, setelah pelatihan ini, selanjutnya kita bisa membuat demplot atau kebun percontohan untuk melihat dampak yang dihasilkan dari tanaman setelah diberi pupuk organik cair tersebut,” pungkasnya.
Reporter: Dani Agus
Editor: Ali Muntoha