Ia menyebutkan seperti bulan Maret, BPBD mencatat ada tujuh bencana alam angin puting beliung dan satu peristiwa kebarakan. ”Kalau angin puting beliung itu hanya berdampak pada pohon tumbang, dan yang kebakaran itu karena arus pendek di peruhaman BRB Desa Rendeng Kecamatan Kota,” paparnya kepada MuriaNewsCom.
Selanjutnya untuk selama bulan April ini, BPBD Kudus mencatat ada 4 titik kebakaran yang terjadi di wilayah Kabupaten Kudus. Seperti pada tanggal 9 April lalu di warung ABGS depan UMK karena kebocoran selang gas.
”Pada hari itu juga ada kebakaran rumah doktor Ikhsan di Desa Singocandi RT 5 RW 5 Kecamatan Kota, kemudian tanggal 27 April terjadi kebarakan gudang produksi gula merah Desa Kandangmas RT 1 RW 15 Kecamatan Dawe, dan tanggal 28 Sabtu kemarin kembali terjadi kebarakan gudang kerja di Bakalan Krapyak RT 3 RW 1 Kecamatan Kaliwungu,” lanjut dia.
Ia juga menyebutkan pada bulan April selain terjadi kebakaran di empat titik, juga terjadi bencana alam angin puting beliung. Ada tiga titik wilayah yang terjadi bencana angin puting beliung. Namun yang terbilang parah yakni pada tanggal 15 April lalu dan 28 April lalu.
”Tanggal 15 April lalu angin puting beliung merobohkan bangunan di RT 2 RW 5 Kecamatan Kaliwungu, dan pada tanggal 28 Arpril lalu merusak 6 rumah rusak ringan, satu mushola, dan satu selepan yang gentengnya diporak-porandakan angin puting beliung,” sambunya.Beruntung dalam semua kejadian bencana alam dalam kurun waktu dua bulan itu, tidak menelan korban jiwa. Sementar itu, pihak dari BPBD Kudus selalu melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat akan selalu waspada terhadap bencana alam.“Kami selalu melakukan himbauan ke desa-desa, ke sekolah, dan bahkan ada pemasangan peringatann bencana. Ya supaya masyarakat ini tidak membuang sampah sembarangan, atau menebang pohon secara liar. Karena itu berdampak pada kerusakan lingkungan,” pungkasnya.
Editor: Supriyadi
Murianews, Kudus – Dalam kurun waktu dua bulan, Maret – April tercatat 15 peristiwa bencana alam terjadi di wilayah Kabupaten Kudus. Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Bergas C mengatakan rincian bencana alam itu terdiri dari angin puting beliung, dan kebakaran.
Ia menyebutkan seperti bulan Maret, BPBD mencatat ada tujuh bencana alam angin puting beliung dan satu peristiwa kebarakan. ”Kalau angin puting beliung itu hanya berdampak pada pohon tumbang, dan yang kebakaran itu karena arus pendek di peruhaman BRB Desa Rendeng Kecamatan Kota,” paparnya kepada MuriaNewsCom.
Selanjutnya untuk selama bulan April ini, BPBD Kudus mencatat ada 4 titik kebakaran yang terjadi di wilayah Kabupaten Kudus. Seperti pada tanggal 9 April lalu di warung ABGS depan UMK karena kebocoran selang gas.
”Pada hari itu juga ada kebakaran rumah doktor Ikhsan di Desa Singocandi RT 5 RW 5 Kecamatan Kota, kemudian tanggal 27 April terjadi kebarakan gudang produksi gula merah Desa Kandangmas RT 1 RW 15 Kecamatan Dawe, dan tanggal 28 Sabtu kemarin kembali terjadi kebarakan gudang kerja di Bakalan Krapyak RT 3 RW 1 Kecamatan Kaliwungu,” lanjut dia.
Ia juga menyebutkan pada bulan April selain terjadi kebakaran di empat titik, juga terjadi bencana alam angin puting beliung. Ada tiga titik wilayah yang terjadi bencana angin puting beliung. Namun yang terbilang parah yakni pada tanggal 15 April lalu dan 28 April lalu.
”Tanggal 15 April lalu angin puting beliung merobohkan bangunan di RT 2 RW 5 Kecamatan Kaliwungu, dan pada tanggal 28 Arpril lalu merusak 6 rumah rusak ringan, satu mushola, dan satu selepan yang gentengnya diporak-porandakan angin puting beliung,” sambunya.
Beruntung dalam semua kejadian bencana alam dalam kurun waktu dua bulan itu, tidak menelan korban jiwa. Sementar itu, pihak dari BPBD Kudus selalu melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat akan selalu waspada terhadap bencana alam.
“Kami selalu melakukan himbauan ke desa-desa, ke sekolah, dan bahkan ada pemasangan peringatann bencana. Ya supaya masyarakat ini tidak membuang sampah sembarangan, atau menebang pohon secara liar. Karena itu berdampak pada kerusakan lingkungan,” pungkasnya.
Editor: Supriyadi