Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Namun siapa sangka, asal usul tradisi dandangan ternyata berasal dari sebuah suara pukulan beduk. Konon menurut ceritanya, sebutan dandangan berasal dari suara beduk yang dipukul berbunyi dhang-dhang.  Pemukulan beduk itu, sebagai pengumuman dari Sunan Kudus kepada para umat muslim, bahwa sudah memasuki awal bulan Ramadan.

“Tradisi pemukulan beduk itu sudah ada sejak tahun 956 H, sampai sekarang (1439 H). Itu sebagai tanda awal bulan Ramadan dengan memukul beduk,” jelas Denny Nurhakhim Humas Menara Kudus kepada MuriaNewsCom, Kamis (10/5/2018).

Ia menceritakan dulunya, setiap menyambut awal bulan suci Ramadan, Sunan Kudus mengirimkan utusan yakni para santrinya untuk mengumumkan ke daerah-daerah. Sehingga ada suara dhang-dhang, yang berasal dari bunyi beduk itulah kemudian lebih dikenal dengan dandangan.

“Dhang-dhang itu hanya bunyi suara ditimbulkan pukulan beduk, tidak ada makna atau arti, dan kemudian kata dhang-dhang itu lebih dikenal dengan dandangan,” sambung dia.

Sedangkan, awal mula kemudian ada lapak pedagang yang berjualan. Itu bermula dari taman menara yang dulunya terdapat pasar tradisional. Pedagang-pedang yang berjualan di sekitar taman menara itu diperkirakan setiap malamnya buka. Karena tujuannya membantu para santri ketika mencari makanan untuk sahur.

“Karena dulunya juga pasar di menara itu tidak buka setiap hari, namun hanya hari-hari pasaran saja,” katanya.Namun, lamban laun perkembangan zaman para pedagang yang berjualan justru tidak hanya berjualan makanan saja. Para pedagang justru berjualan bermacama-macam saat selama dan menyambut bulan suci Ramadan.“Namun setelah perkembangan jaman, warung tidak hanya menyediakan makanan namun juga suvernir lainnya ada,” beber dia.Hingga kini, tradisi menabuh geduk tetap dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadan. Hanya saja, menurutnya biasanya yang menabuh beduk adalah remaja dan anak-anak disekitar menara.Ia pun berharap tradisi menabuh beduk setiap menjelang bulan suci ramadhan tetap dilestarian. Terlebih lagi, di tengah-tengah zaman yang serba modern, namun tradisi seperti itu harusnya tetap dijaga dan dilesetarikan kepada generasi anak muda sekarang.Editor : Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler