Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dalam kunjungannya itu, pria kelahiran Blora 30 Januari 61 Tahun yang lalu itu berkesempatan meninjau produksi gula di PG Rendeng. Ia meninjau tahapan demi tahapan produksi gula di PG Rendeng. Mulai dari penggilingan tebu hingga jadi gula dalam karung.

Bambang mengatakan,  kunjungan kali ini untuk mengetahui permasalahan gula di daerah seperti di Kudus. Dikatakan dia, masalah gula saat ini sangat serius. Salah satunya harga gula yang murah lantaran merugikan petani.

"Kami memantau masalah gula ini sangat serius, lama ndak selesai-selesai. Salah satu mengenai harga gula. Petani masih kecewa dengan harga Rp 9700. Harga itu menjadi masalah," terang Bambang Sadono, seusai meninjau di PG Rendeng Kamis (2/8/2018).

Ia mengatakan harga Rp 9.700 menjadi masalah bagi petani gula. Lantaran harga itu tidak seimbang dengan modal yang dikeluarkan oleh para petani tebu untuk menanam.  Terlebih lagi,  harga tersebut tidak sesuai standar minimal harga gula di pasaran.

"Kemudian ada informasi bahwa tebu petani giling, namun justru pemerintah impor gula. Itu pasti akan menghambat penyerapan gula petani," beber dia.
Apabila hal tersebut terjadi dalam jangka panjang, ia khawatir kultur tanam tebu bisa menjadi surut. Padahal cita-cita negara Indonesia salah satunya swasembada gula."Artinya orang tidak semangat lagi dibandingkan petani padi, mungkin mulai lebih menarik tanam padi. Karena tebu dengan risiko lebih berat," kata dia."Bahkan jika kebiasaan menanam tebu hilang, maka akan semakin jauh lagi cita-cita swasembada gula dan semakin tergantung dari luar," lanjutnya.Dengan adanya perbaikan kapasitas PG Rendeng, ia berharap dapat membantu memperbanyak pasokan tebu. Sehingga cita-cita swasembada gula terpenuhi.Editor :  Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler