Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Setidaknya, ada tiga klenteng tua yang ada di wilayah Lasem ini. Yakni, Klenteng Cu An Kiong di Dasun, Klenteng Poo An Bio di Karangturi, dan Klenteng Gie Yong Bio di Babagan.
Dimulai dari Klenteng Cu An Kiong di Desa Dasun. Klenteng ini merupakan klenteng tertua di pulau Jawa yang dibangun sekitar abad ke-15.Namun tiada catatan pasti mengenai peletakan batu pertama klenteng ini.
Pemugaran demi pemugaran dilakukan di klenteng tersebut. Informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, pemugaran dilakukan terakhir kalinya pada tahun 1868 silam. Klenteng ini dijadikan sebagai tempat pemujaan untuk Makco Thian Siang Sing Bo atau Dewa Pelindung Laut karena telah memberikan keselamatan di lautan untuk orang Tionghoa saat merantau ke negara lain.
Klenteng ini juga dipercaya merupakan klenteng yang menghormati dua orang China yang pertama kali mendarat di Lasem, yaitu pria bermarga Chen (Tan) dan Huang (Oey).
Bahkan, keduanya juga dipuja di Rembang dan Juwana. Cerita versi lain, kedua tokoh China ini adalah pahlawan Lasem yang turut berperang bersama orang-orang Jawa melawan VOC pada 1740-1743. Orang Jawa mengenang peristiwa di zaman itu dengan sebutan “Geger Pacinan”.
[caption id="attachment_102929" align="aligncenter" width="565"]
Kelenteng Poo An Bio di Karangturi Lasem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)[/caption]Kemudian, ada Klenteng Poo An Bio di Karangturi. Klenteng ini dibangun sekitar tahun 1740. Pada zaman itu, pascamendaratnya Laksmana Cheng Ho, warga Tiongkok mulai menyebar ke daerah Karangturi atau lebih tepatnya berada di sebelah selatan jalan pantura Lasem.
Dengan altar utama Guo Seng Wang, terdapat lukisan sejumlah 100 buah pada tembok klenteng lengkap dengan cerita pendek yang menarik. Cerita tersebut merupakan cerita rakyat yang mengandung moral.
Salah seorang pengunjung berbincang-bincang dengan penjaga Kelenteng Gie Yong Bio di Babagan Lasem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)[/caption]Dalam pertempuran tersebut disebut dengan perang kuning yang dipimpin oleh Raden Ngabehi Widyaningrat (Oey Ing Kiat) sebagai Adipati Lasem dibantu oleh Panji Margono dari tokoh Jawa serta K. Ali Baedlowi atau disebut Mbah Joyo Tirto (Jotirto) atau juga K. Baedlowi atau juga K. Ali Badawi dari tokoh pesantren.Klenteng tersebut adalah saksi betapa eratnya hubungan emosional antara orang asli Indonesia atau pribumi dengan orang Tionghoa atau juga dengan umat muslim kala itu. Hubungan baik orang pribumi dengan orang Tionghoa di Lasem sangat berbeda dengan kota lain di Indonesia.Salah satu, tokoh agama yang juga pemimpin Ponpes Kauman Karangturi KH. Zaim Ahmad mengatakan, pada tahun 1742, di Lasem pernah terjadi perang antara pribumi, China dan tokoh pesantren melawan VOC atau belanda.“Dalam perang tersebut, pihak pribumi dipimpin Oleh Panji Margono, dari kalangan pesantren dipimpin K. Ali baedlowi. Pada masa itu, Kadipaten Lasem dipimpin oleh Oei Ing Kiat,” ujarnya.Sementara itu, Masyarakat Sejarawan Indonesia Kabupaten Rembang Edi Winarno mengutarakan, ketiga klenteng tersebut tak hanya dibangun sebagai tempat ibadah. "Klenteng tersebut juga sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang,” pungkasnya.Editor : Kholistiono
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



