Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Siapa sangka, Batik Lasem, ternyata pada era pra kemerdekaan sangat terkenal di Nusantara. Bahkan, ketika itu, Batik Lasem masuk jajaran lima besar, batik yang dikenal di Nusantara. Yakni, Batik Pekalongan, Batik Banyumas, Batik Yogyakarta, Batik Solo dan Batik Lasem.

"Pada zaman penjajahan Belanda, memang Batik Lasem sebagai salah satu dari kelima batik lainnya yang sangat terkenal di Nusantara. Namun, lambat laun, Batik Lasem justru malah tenggelam dibandingkan dengan batik khas lainnya,” ujar Sigit Witjaksono (88), pemilik Rumah Batik Sekar Kencana Lasem.

Semakin pudarnya Batik Lasem tersebut, katanya, tak lepas dari keengganan para pemuda untuk menggunakan Batik Lasem dan ikut melestarikannya. Hal itu juga, karena semakin majunya perkembangan zaman.

Pada tahun 2000 an, dirinya mengaku pernah diundang oleh pemerintah pusat terkait sejarah dan perkembangan Batik Lasem. Ketika itu pula, pemerintah mengizinkan untuk memadukan motif lokal dengan motif Cina.

Ia katakan, pada saat usaha Batik Lasem masih menggeliat, perajin batik lokal atau batik tulis Lasem jumlahnya lebih dari 120 an orang. Namun demikian, lambat laun, jumlahnya hanya tersiasa sekitar 12 orang saja.“Memang jumlahnya anjlok sangat signifikan. Banyak pengusaha batik yang gulung tikar. Hal ini karena minat masyarakat terhadap Batik Lasem semakin berkurang, ditambah lagi, pengusaha batik ketika itu tak bisa bersatu,” ungkapnya.Namun demikian, pengusaha batik di Lasem, kini mulai bangkit lagi dan memiliki keoptimisan yang tinggi terhadap perkembangan Batik Lasem. Apalagi, masyarakat juga sudah mulai akrab dengan batik sebagai fashion. Dengan perpaduan corak dan gaya yang menarik, kini usaha batik terus mengalami peningkatan.“Saat ini pemerintah pusat maupun daerah membuka peluang untuk perkembangan batik. Pemda Rembang sendiri, kini juga sering mengadakan studi banding, mengadakan pameran UMKM dan sejenisnya. Sehingga nama Batik Lasem kembali  terangkat. Terlebih, saat ini Lasem juga sudah mulai dikenal dengan berbagai budayanya,” pungkasnya.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler