Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Proses Parade Sewu Kupat sendiri diawali dengan diaraknya gunungan yang terdiri atas susunan seribu ketupat dan ratusan lepet, dari rumah sesepuh desa. Dengan diawali upacara kecil-kecilan, selanjutnya gunungan seribu ketupat dan gunungan lepet diarak ke Masjid Sunan Muria.
Dengan dipimpin tokoh ulama setempat, warga kemudian mengarak ketupat dari masjid menuju Taman Ria Colo, yang berjarak sekitar 1 km dari makam. Saat di lokasi, puncak acara digelar. Dengan diawali sambutan dan pemotongan gunungan ketupat, ribuan warga yang memadati lokasi langsung menyerbu dan memperebutkan ketupat dan lepet yang ada.
[caption id="attachment_88139" align="aligncenter" width="565"]
Beberapa warga terlihat mengenakan pakaian khas pewayangan ketika mengarak seribu ketupat (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)[/caption]
Beberapa warga terlihat mengenakan pakaian khas pewayangan ketika mengarak seribu ketupat (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)[/caption]Bupati Kudus Musthofa menyampaikan, Parade Sewu Kupat tersebut diharapkan bisa menjadi salah satu objek wisata primadona di Kudus. Kemudian, agenda ini juga diharapkan bukan hanya sekadar seremonial dan hura-hura, sehingga menghilangkan makna dari perayaan Syawalan.
“Jangan sampai kesannya hanya rebutan ketupat saja. Tentunya, perayaan tradisi ini jangan sampai melunturkan arti atau makna yang sesungguhnya. Makna dari tradisi seribu ketupat ini, yakni, sebagai salah satu bentuk syukur kepada Tuhan, atas nikmat yang diberikan. Termasuk untuk mendapatkan ”karomah” dari Sunan Muria. Perayaan ini juga dimaksudkan sebagai wujud kemenangan, setelah melaksanakan puasa selama satu bulan penuh. Melalui tradisi ini, masyarakat dapat berkumpul dan menjalin silaturahmi antara satu dengan yang lain,” ujarnya.
Dalam acara Parade Sewu Kupat ini, setidaknya ada 28 gunungan dari ketupat dan lepet yang berasal dari organisasi masyarakat, pemerintahan desa yang ada di Kecamatan Dawe, instansi Kecamatan Dawe dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yuli Kasiyanto menuturkan, Parade Sewu Kupat tersebut, tradisi seperti ini diharapkan bisa berjalan terus setiap tahunnya. Sehingga, nantinya, dapat berimbas positif terhadap kemajuan Kabupaten Kudus.
Editor : Kholistiono



