Kisah Pilu Mbah Tasiem yang Sebatangkara dan Terpaksa Menghuni Panti Jompo
Edy Sutriyono
Rabu, 27 Juli 2016 07:30:36
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Mbah Tasiem bercerita, sekitar 5 tahun silam dirinya pernah bekerja di wilayah Purwodadi untuk mengurus orang jompo. Namun setelah orang yang dirawatnya itu meninggal dunia, dirinya langsung ke Dinas Sosial Grobogan untuk bisa tinggal di panti jompo.
"Saya itu tidak punya keluarga lagi di Purwodadi. Sebab orang yang saya rawat dulu juga sudah meninggal. Mau tidak mau, saya ke Dinas Sosial saja, supaya bisa direkomendasikan untuk tinggal di panti jompo,” ujarnya.
Ia katakan, sejak di tinggal di Unit Pelayanan Sosial Lansia Rembang Mergo Mukti, kehidupannya cukup baik. Karena, di panti jompo tersebut, dirinya dirawat. “Meskipun di sini banyak lansia dari daerah lain yang belum saya kenal, namun kami bisa hidup secara kekeluargaan, hidup rukun dan damai,” pungkasnya.
Ia katakan, sejak di tinggal di Unit Pelayanan Sosial Lansia Rembang Mergo Mukti, kehidupannya cukup baik. Karena, di panti jompo tersebut, dirinya dirawat. “Meskipun di sini banyak lansia dari daerah lain yang belum saya kenal, namun kami bisa hidup secara kekeluargaan, hidup rukun dan damai,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono



