Achmadi : Dulu, Bapak Saya Dapat THR Mercon Sebesar Kaleng Biskuit
Edy Sutriyono
Selasa, 9 Agustus 2016 19:47:27
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Pabrik tersebut terdapat di Jalan Pemuda Km 03 Rembang, yang kini sudah dibangun Masjid Maslahatul Ummah, Kantor Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Rembang dan Gedung Haji.
Keberadaan pabrik mercon tersebut, dulu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak dari wilayah setempat. Termasuk, salah satunya adalah Parijan, bapak dari Ali Achmadi, Takmir Masjid Maslahatul Ummah Rembang.
Ali Achmadi bercerita, ketika itu, karyawan yang bekerja di pabrik mercon tersebut mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) ketika menjelang Lebaran. "Bapak saya Parijan juga pernah kerja di pabrik mercon milik warga Cina itu, dan sering mendapatkan THR berupa mercon. Bentuk dan besaran merconnya juga bermacam - macam. Ada yang sebesar knalpot motor, kaleng biskuit, bahkan ada yang sebesar lingkaran tiang listrik," paparnya.
Ketika itu, katanya, siapa yang bekerja di pabrik mercon tersebut sudah dianggap orang terpandang. Sebab, penghasilan sebagai buruh di pabrik mercon itu sudah bisa menutupi kebutuhan sehari-hari. Baik untuk makan, atau keperluan lainnya. Karena gaji di pabrik mercon itu cukup besar di zamannya.
Tak hanya laki-laki saja yang bekerja di tempat tersebut, namun, tenaga kerja wanita juga cukup banyak yang bekerja di pabrik mercon. “Kebanyakan adalah warga Kabongan Kidul yang bekerja di pabrik tersebut. Namun, sebelum Indonesia merdeka, pabrik itu sudah kosong dan tinggal berupa bangunannya yang hampir roboh,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono



