Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Informasi yang MuriaNewsCom himpun di lapangan menyebutkan, peristiwa berdarah tersebut terjadi pada Kamis (15/09/2016) sekitar pukul 08.25 WIB. Insiden ini terjadi di lingkungan SD Negeri 01 Kedungringin, Kecamatan Sedan.

Surana (49) guru SDN 01 Kedungringin mengatakan, peristiwa berdarah itu bermula ketika Mahfudz yang sedang ngemong anaknya dihampiri oleh Syafii (23). Tak lama kemudian terjadi adu mulut dan perkelahian antara keduanya, yang berakhir dengan tewasnya Mahfud.

“Korban ini, pagi tadi momong anaknya yang kecil di area sekolahan sambil melihat putrinya yang besar, dan saat ini duduk di kelas VI SD. Ketika itulah, tiba-tiba pelaku ini datang dan terjadilah pertengkaran, yang mengakibatkan korban meninggal karena dibunuh dengan cara ditusuk tatah,” ujarnya.

Dari kabar yang beredar, menurutnya, peristiwa ini merupakan dendam lama antara pelaku dengan korban. "Dari kabar yang beredar, saat ada konser dangdut beberapa waktu lalu, pelaku itu pernah bertengkar dengan orang lain. Nah saat itu, Mahfudz datang melerai, namun Syafii tidak menerima itu. Dan akhirnya Syafii merasa dendam hingga sekarang," imbuhnya.
Juwito (55) yang juga guru SDN 01 Kedungringin mengatakan, ketika terjadi duel antara pelaku dengan korban, dirinya sedang berada di kelas. Dan ketika mendengar ribut-ribut, dirinya kemudian langsung keluar kelas."Ketika itu, saya keluar kelas dan langsung melerai keduanya. Saya bilang, “sudah, sudah, nanti mati.” Sebab  ketika itu, Mahfudz sudah dalam kondisi tidak berdaya. Sedangkan anaknya yang kecil berusia sekitar tiga tahun langsung diambil warga . Dan setelah saya bilang seperti itu, pelaku yang membawa alat pertukangan berupa tatah, malah langsung menghabisi nyawa korban. Dan setelah perkelahian itu selesai pelaku melarikan diri. Korban sendiri mengalami luka tusuk di leher bagian kiri," ungkapnya.Katanya, sebelum berkelahi, pelaku habis pulang dari mengambil pupuk kandang. Dan ketika melihat Mahfudz berada di sekolah, Syafii langsung pulang ke rumah untuk menaruh pupuk kandang sembari mengambil tatah dan menghampiri Mahfudz, hingga berujung perkelahian dan tewasnya  Mahfudz.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler