Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Aksi yang dilakukan siswa maupun orang tua tersebut, buntut dari pembagian daging kurban beberapa waktu lalu, yang disebut-sebut tidak sesuai dengan besaran iuran siswa. Per siswa ketika itu dipungut Rp 35 ribu. Namun ternyata, untuk kurban tidak dibelikan kambing, namun sudah dalam bentuk daging yang dibeli di tempat jagal, yang harga per bungkusnya Rp 30 ribu. Daging inilah yang kemudian dibagi ke masing-masing siswa. Kelebihan Rp 5 ribu itulah yang kemudian menimbulkan protes dari wali murid, karena dinilai pihak sekolah mengambil untung dari pungutan kurban tersebut.

Terkait aksi protes dan mogok belajar tersebut, M Amin, salah satu guru mengatakan, jika pihaknya tidak bisa memberikan keputusan. Sebab, kepala SDN Padaran  Suci Iriani Hendrawati, hari ini sedang tidak masuk sekolah, karena ada keperluan penting ke Kudus.

“Sebenarnya aksi yang dilakukan wali murid ini ditujukan kepada kepala sekolah, namun kebetulan kepala sekolah lagi ada urusan penting di Kudus, jadi tidak bisa menemui mereka. Ada tiga tuntutan dari wali murid, yakni terkait iuran daging kurban, kemudian transparansi pemotongan beasiswa dan pembelian seragam batik untuk murid baru dan lama. Oh ya, mereka juga meminta kepala sekolah untuk dipindah,” katanya.

Lebih lanjut ia mengaku, jika selama ini kepala sekolah juga tidak pernah melibatkan guru untuk melakukan rapat terlebih dahulu ketika akan melakukan kegiatan, seperti halnya pelaksanaan kurban. Begitu juga dengan pembelian batik dan pemotongan beasiswa.

Sementara itu, Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Rembang Muryanto mengutarakan, sebenarnya pihaknya telah melakukan pembinaan terhadap kepala sekolah, khususnya terkait dengan iuran daging kurban yang sempat mendapatkan protes orang tua siswa."Beberapa waktu lalu, kita sudah melakukan pembinaan terhadap kepala sekolah. Namun, ternyata hari ini ada aksi demo lagi oleh orang tua siswa dan juga aksi mogok belajar. Tak hanya terkait kasus daging kurban saja, ternyata protes merembet ke masalah lain, di antaranya pemotongan beasiswa dan juga meminta agar UPT memindahkan kepala sekolah,” ujarnya.Dirinya mengatakan, khusus mengenai pemindahan kepala sekolah seperti yang diminta oleh wali murid, pihaknya menegaskan jika hal tersebut ranah dari Dinas Pendidikan. Dalam hal ini, pihaknya hanya bisa menyampaikan segala permasalahan yang terjadi di SDN Padaran.Baca juga : Ratusan Murid SDN Padaran Rembang Mogok SekolahEditor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler