Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


"Cukup sulit untuk mengubah pandangan mereka terkait perilaku buang air besar sembarangan. Sebagian besar mereka adalah nelayan, dan selama ini lebih memilih BAB di pinggiran laut, karena hal itu dianggap mudah ketimbang membuat jamban di rumah,” katanya.

Terkait kondisi tersebut, pihaknya terus mencoba untuk mensosialisasikan program stop BABS. Karena menurutnya, penggunaan jamban masih dianggap sebagai sesuatu yang kurang penting atau tidak menjadi hal pokok.

“Biasanya, masyarakat di sekitar pantai ini, baru akan membuat jamban ketika ada hajatan, misalnya hajatan pernikahan. Sebab bila sudah mantu, dirumah mereka sudah ketambahan keluarga baru, sehingg perlu membuat jamban," paparnya.Selanjutnya, mengenai program stop BABS tersebut, pihaknya juga tidak mengharuskan setiap KK memiliki WC atau jamban, namun dalam beberapa KK bisa patungan untuk membuat jamban yang bisa digunakan bersama. Sehingga, tidak lagi BAB sembarangan.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler