Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kirab kebangsaan yang dibuka langsung Bupati Rembang Abdul Hafidz tersebut melintasi jalan protokol yang ada di kota Rembang. Mulai dari alun-alun menuju Jalan Dr Soetomo hingga Perempatan Zaeni.

Setelah itu, peserta kirab kebangsaan melanjutkan langkah mereka menuju Jalan Kartini hingga ke Jalan Majapahit, dan berakhir atau finish di Alun-alun Rembang kembali.

Dari pantauan MuriaNewsCom, pada kirab kebangsaan tersebut, setiap santri mengenakan pernak-pernik tersendiri. Baik mulai dari bendera kebesaran NU, bahkan ada pula yang membawa kain berwarna merah putih sepanjang 80 meter dan lebar 2 meter.

Salah seorang santri dari Yayasan Darul Hadlonah Rembang, Zudi (17), mengatakan pihaknya membawa kain berwarna merah dan putih ini tentunya ada makna tersendiri.

”Makna dari kain merah putih ini yakni merah berani, dan putih bermakna suci. Bila kita jabarkan, kita sebagai santri harus bearani menegakan syariat, ajaran agama. Berani bilang salah bila ada yang salah, berani membela negara. Sedangkan putih yakni kita harus bisa mensucikan pikiran, suci menjalin silaturahim antarsesama tanpa membeda-bedakan sesama,” paparnya.Diketahui, kain merah dan putih dengan masing-masing sepanjang 80 meter dan lebar 2 meter itu, diikat di pinggang masing-masing santi secara bersama-sama. Sehingga memperlihatkan kebersamaan yang kuat.”Kain putih dan merah ini kita berikan pita atau tali. Nah, pita itu kita ikatkan di pinggang masing-masing santri. Itu juga ada maknanya. Kita sebagai warga NKRI harus saling bersatu, bahu membahu, sehingga kedaulatan negeri dapat terjaga,” ujarnya.Dia menambahkan, meskipun kirab ini baru kali pertama, namun santri harus bangga dengan kesantriannya. ”Jangan minder dengan yang lain. Sebab santri juga pelajar,” pungkasnya.Editor: Merie

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler