Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kades Kutuk, Supardiyono menyebutkan, total lahan pertanian warganya yang ditanami cabai, seluas 20 Ha. Namun, belakangan ini sekitar 50 persen dari petani gagal panen lantaran tanaman diserang penyakit.

"Para petani sebagian resah karena diserang jamur. Akibatnya cabai petani menjadi kusut dengan sebagainya busuk. Atau warga sini biasanya menyebutkan dengan patek," katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Rabu (7/1/2017). 

Menurutnya, cabai patek bukannya tidak laku dijual. Namun harganya sangat murah dan tergantung oleh pembelinya melihat kondisi. Hanya, ada pula yang sama sekali tak laku dan terpaksa dibuang. Itu berakibat petani cabai sebagian merugi.Camat Undaan Catur W juga membenarkan hal itu. Dia mengungkapkan selama ini daerah penghasil cabai yang bagus dan jumlah yang banyak memang berasal dari Desa Kutuk. Bahkan cabai juga sampai dibawa keluar kota oleh tengkulak. "Ada juga cabai dibeli oleh tengkulak di wilayahnya. Untuk kemudian cabai dijual kembali ke sejumlah tempat di kota-kota sebelah seperti Pati, Demak," ujarnya.Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler