Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Kepala SMK RUS Faridudin, mengungatakan pascakejadian tersebut sebenarnya siswa sudah sangat menyesal. Bahkan siswa sudah meminta maaf kepada bapak tersebut dengan langsung mendatangi rumah. 

"Jadi, siswanya sudah menyesal. Dia sudah datang ke sekolah bersama bapaknya minta solusi penyelesaian. Dan hasilnya mereka datang ke rumah bapak tersebut didampingi dengan Polsek Dawe," katanya saat dihubungi MuriaNewsCom, di Kudus, Selasa (14/2/2017). 

Mendapati bocah yang minta maaf secara langsung, bapak itu juga memberikan maaf kepada siswa.  Persoalan tersebut dianggap sudah rampung tak lama setelah kejadian tersebut. 

Siswa tersebut adalah Yulianto Nurkartiko, kelas XII SMK RUS. Kondisinya kini menjadi pendiam, dan sering minder jika ketemu banyak orang.  Bahkan beberapa hari dia tidak masuk sekolah karena minder tersebut.

Dikatakan yang namanya sosial media memang susah terkontrol. Jika sudah menyebar dan sudah minta maaf namun yang dimunculkan adalah kesalahan siswanya itu.

"Kami khawatir jika sampai dia frustrasi. Dia sudah kelas tiga dan mau ujian, tapi karena sampai kini masih banyak yang mengejek. Jadi membuat siswa tersebut takut untuk aktivitas seperti biasanya," ujarnya.

Parahnya lagi, siswa tersebut sempat mengajukan surat pengunduran diri dari sekolah. Namun sekolah menolak, dan membujuk agar melakukan aktivitas seperti sedia kala. Sebab bagi sekolah, siswanya sudah mengakui kesalahan dan menyesali. Selain itu persoalan juga sudah beres.

Dikatakan, sebenarnya dalam keseharian, siswa itu baik. Namun karena masih muda dan capek seharian belajar, maka secara langsung emosi meledak-ledak dan mengakibatkan kejadian semacam itu. Dampak dari hal tersebut bukan hanya kepada siswa semata. Namun juga kepada sekolah juga terkena imbasnya. Banyak yang beranggapan kalau sekolah tidak mendidik dengan siswa. "Padahal hanya beberapa dan itupun khilaf karena capek. Jadi semuanya tetap dianggap sama," ungkap dia. Editor : Akrom Hazami Baca juga : VIRAL, Siswa Bentak Bapak-Bapak Karena Motornya Lecet Terserempet di Kudus 5 Meme Cetno Ini lagi Ngehits di Kudus 

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler