Buku Mitologi Ritual Budaya Kaki Muria Dikiritik Sejarawan Kudus
Faisol Hadi
Kamis, 2 Maret 2017 21:00:49
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
"Yang saya tangkap, banyak hal tentang budaya di buku. Seperti dijelaskan kalau rumah kapal merupakan milik Nitisemito. Saya pernah menjumpai kalau ternyata bukan. Dan di dalam buku, daftar pustaka tentang itu tidak dicantumkan," kata Edy yang menjadi salah satu narasumber bedah buku.
Menurutnya, sebagai karya ilmiah, harusnya buku dilengkapi dengan daftar pustaka. Karena pembaca bakal mencari literatur lainnya. Selain itu, daftar pustaka juga mampu jadi sumber.
Mantan wartawan ini juga menyebutkan, dalam judul buku terkesan membatasi di Lereng Muria dengan nama “Kaki Muria". Padahal, dalam buku juga menyebutkan tentang budaya di kawasan Muria atau Colo. "Dalam buku belum diungkap nama Kudus yang berubah. Dulunya Kudus dan Muria itu namanya bukan itu. Jadi kalau bisa diungkap malah lebih bagus," ungkapnya.
Lebih jauh dikatakan, dalam buku bersampul hitam itu juga tak menyinggung budaya tentang warga Rahtawu. Padahal, Rahtawu bagian dari Kudus, dan juga memiliki banyak sekali budaya yang sebetulnya dapat diangkat menjadi pengetahuan.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



