Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Imam Prayitno, Kepala Bidang Fasilitas Perdagangan dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus mengatakan pihaknya sudah melakukan kerja sama dengan sejumlah pedagang. Kerja sama dalam bentuk menggandeng paguyuban, baik yang berada di pasar maupun PKL.

"Kami sudah infokan kepada sejumlah pedagang. Jika menjumpai makanan yang aneh agar segera melaporkan kepada kami, setelah itu bakalan kami tindak lanjuti secepat mungkin," katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (4/3/2017).

Dinas tak hanya meminta keaktifan dari para paguyuban, juga menerjunkan tim untuk sosialisasi kepada pedagang secara langsung. Seperti halnya kemarin Kamis (9/3/2017), pihaknya menerjunkan petugas untuk datang ke sejumlah PKL di sekolah 

PKL di sekolah disasar langsung, lantaran mereka yang langsung bersinggungan dengan siswa. Itu berbahaya, lantaran makanan yang selama ini mencurigakan dan mengandung bahan berbahaya biasanya menarik perhatian siswa, khususnya SD.

"Kemarin ada enam titik yang kami datangi. Seperti Purwosari, kawasan Museum Kretek, Jekulo, Kaliwungu serta Barongan. Lokasi tersebut merupakan wilayah dengan PKL yang banyak di sekolah," ujarnya.Pihaknya tak mau kecolongan jika sampai ada jatuh korban. Untuk itulah, mereka mendatangi para PKL serta menunjukkan gambar makanan yang dianggap mencurigakan. Seperti misalnya beberapa waktu yang lalu tentang permen dot."Biasanya warnanya sangat tajam dan menarik. Karena warga tajam itulah mengundang anak membeli. Padahal kebanyakan warna makanan semacam itu mengandung pengawet yang berlebihan," ungkapnya.Editor : Akrom Hazami 

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler