Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Yuli Kasianto mengatakan, jika saat ini baju adat Kudus mulai jarang ditemui.

"Ini mengkhawatirkan, tengok saja perajin tutup kepala adat Kudus yang kini hanya tinggal satu orang saja. Itupun, sudah sangat tua dan tak ada regenerasi lagi," ujar Yuli mencontohkan, Selasa (25/7/2017).

Menurut Yuli, minimnya perajin baju adat karena minat warga yang rendah. Akhirnya baju adat pun tak laku. Imbasnya, perajin pun berhenti memproduksi.

Ditambah lagi, baju adat Kudus susah dalam perawatan. Termasuk juga, dalam perawatannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Pihaknya menyatakan butuh penanganan khusus agar baju adat Kudus tak lagi terancam punah. Di antaranya, penanaganan antara Dinas Pendidikan, dan Dinas Perindustrian."Siswa SMK bisa diajak membuatnya, minimal dengan memanfaatkan ekstrakurikuler. Kemudian Dinas Perindustrian bisa membantu mengadakan pelatihan pembuatan baju adat Kudus," ucapnya. Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler