Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Empat hari sebelum kejadian, ibu satu anak tersebut diketahui tetangganya terlihat sedang stress berat. Namun, tetangga tidak menyangka jika kemudian yang bersangkutan meninggal kemudian.


Kapolsek Mejobo AKP Suharyanto mengatakan, kejadian tersebut bermula saat tetangga korban bernama Sahlan, melintas di rumah korban. Saat itu, Sahlan memang sedang mencari korban yang tidak ada di rumahnya.


”Saksi saat itu memang sedang mencari korban. Kurang lebih pukul 05.30 WIB. Tapi tidak ketemu juga. Nah, saat melintas di sumur dekat rumah, kurang lebih 30 menit kemudian, saksi melihat korban sudah mengapung di dalamnya,” terangnya, Kamis (11/8/2016).


AKP Suharyanto mengatakan, mengetahui korban sudah mengapung, saksi berteriak meminta tolong. Tidak lama kemudian, tetangga berdatangan untuk melihat ke lokasi kejadian.


Warga sekitar kaget dengan kejadian tersebut. Mereka kemudian bersama-sama mengangkat tubuh korban ke atas. Kemudian disemayamkan di rumah duka. Tidak lagi kemudian, polisi yang mendapat laporan, mengecek ke lokasi kejadian.


”Setelah itu, kami bawa jenazah korban ke puskesmas terdekat. Hasilnya tidak diketemukan tanda bekas luka penganiayaan atau kekerasan lainnya di tubuh korban, oleh dr Tita dari UPT Puskesmas Jepang,” ujarnya.


”Setelah itu, kami bawa jenazah korban ke puskesmas terdekat. Hasilnya tidak diketemukan tanda bekas luka penganiayaan atau kekerasan lainnya di tubuh korban, oleh dr Tita dari UPT Puskesmas Jepang,” ujarnya.

AKP Suharyanto menjelaskan, korban sebelumnya terlihat stres berat. Bahkan selama empat hari diketahui tidak bisa tidur. Untuk itulah, tetangga sempat khawatir melihat kondisinya. Sehingga sempat dibawa ke RS jiwa pada 10 Agustus kemarin.

Atas kejadian itu, menurut AKP Suharyanto, keluarga sudah menerima dengan ikhlas dan menolak jenazah korban untuk diautopsi. Keluarga sudah merelakan kepergian korban, dan lebih memilih menganggapnya sebagai musibah.

”Korban tinggal di rumahnya hanya bersama dengan satu orang anaknya laki-laki yang berusia 13 tahun. Sementara suaminya sedang merantau bekerja sebagai buruh bangunan di Tegal,” imbuhnya.

Editor: Merie

 

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler