Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kasi Statistik dan Distribusi BPS Kudus Wiwik Jumiyati mengatakan, Kudus mengalami inflasi sebesar 0,04 persen pada September 2016. Sedangkan Jawa Tengah mengalami inflasi sebesar 0,09 persen. Sementara nasional hanya mengalami deflasi 0,22 persen."Pada September, inflasi Kudus lebih tinggi dibanding Austus 2016 deflasi 0,48 persen dengan IHK 129,65. Tidak setinggi Jateng serta nasional yang mengalami inflasi yang cukup tinggi," kata Wiwik.

Di Jawa Tengah, Kudus menduduki peringkat kedua dari bawah dari enam kota Survei Biaya Hidup (SBH). Seluruhnya mengalami inflasi pada September. Inflasi tertinggi, yakni di Kota Semarang sebesar 0,13 persen, diikuti Kota Tegal sebesar 0,07 persen, Surakarta 0,06 persen, Cilacap 0,05 persen kemudian Kudus 0,04 persen. Inflasi terendah terjadi di Purwokerto dengan 0,02 persen.

Wiwik mengatakan, terjadinya inflasi di Kudus disebabkan karena adanya penurunan harga, yang ditunjukkan oleh naiknya indeks beberapa kelompok. Seperti bahan pokok jenis minuman dan juga makanan. Ditambahkan, jenis komoditas yang memberikan sumbangan inflasi seperti tarif pulsa ponsel, bawang merah, pasir, rokok serja jus buah. Sedangkan kelompok pengeluaran yang paling besar membuat inflasi, adalah rokok dan tembakau yang mencapai 0,31 persen, kelompok kesehatan 0,02 persen, dan transportasi serta komunikasi 0,44 persen.Selain itu, beberapa kelompok malah mempengaruhi deflasi karena penurunan harga. Seperti telur ayam ras, cabai rawit, kangkung, semen, wortel, pisang dan beras. "Kalau laju inflasi kalender, yakni sebesar 1,15 persen. Sedangkan Year to year (September 2016 terhadap September 2015) sebesar 2,18 persen," imbuhnya.Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler