Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Direktur PDAM Kudus Ahmadi Syafa mengatakan, jika aliran listrik sampai padam, bukan hanya PDAM yang kehilangan pemasukan. Tapi pelanggan juga terganggu .

"Untuk itulah genset dibutuhkan. Namun untuk membelinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit," katanya kepada MuriaNewsCom.

PDAM Kudus saat ini memiliki 48 sumur produksi, dengan total sambungan rumah (SR) hampir 40 ribu pelanggan. Untuk mengoptimalkan layanan jika terdapat gangguan pemadaman listrik, maka tiap sumur efektifnya terdapat genset.

Selain itu, upaya lain yang juga dibutuhkan untuk kepuasan pelanggan adalah harus siapkan tandon air dalam jumlah lebih besar. Begitu ada masalah air masih bisa dialirkan ke jaringan pelanggan.

Gangguan  seperti itu, misalnya terjadi Senin (24/10/2016). Hal itu dipicu oleh padamnya aliran listrik selama empat jam mulai pukul 01.00 dini hari. Kondisi itu berimbas hilangnya potensi pendapatan dari pelanggan, besarnya mencapai Rp 100 juta.

Akibatnya, gelontoran air bersih tak dapat dialirkan ke pelanggan karena tidak berfungsinya 16 sumur produksi di kawasan Sudimoro Kecamatan Gebog dan Gondangmanis (Bae) akibat listrik mati.Tak pelak, pelayanan sekitar 20 ribu pelanggan di wilayah Bae dan Kota terganggu. Dan potensi kehilangan mencapai Rp 100 juta, dari jumlah pelanggan yang mati sekitar 20 ribu pelanggan.Selain listrik padam, gangguan yang masih seringkali terjadi yaitu akibat bocornya pipa jaringan. Kebocoran bisa akibat terkena galian, pipa terjepit akar pohon, tekanan kuat air dari dalam dan tekanan beban luar seperti getaran kendaraan.Dibanding tahun lalu, tingkat kebocoran air atau non revenue water (NRW) pada jaringan distribusi PDAM tahun 2016 ini mengalami kenaikan. Jika tahun lalu NRW rata- rata 19,19 persen.Sedang tahun ini hingga bulan ke sepuluh rata- rata mencapai 22 persen. Angka itu di atas ketentuan yang disyaratkan pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, di mana angka NRW dipatok maksimal 20 persen.Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler