Harga Daging Ayam di Jepara Mulai Merangkak Naik, Sekilo Jadi Rp 40 Ribu
Faqih Mansur Hidayat
Jumat, 9 April 2021 14:09:30
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
MURIANEWS, Jepara - Beberapa hari jelang Ramadan, harga kebutuhan pokok di pasar tradisional di Bumi Kartini mulai mengalami kenaikan. Salah satu komoditas pangan yang naik yaitu daging ayam.
Denik, salah satu penjual daging ayam di Pasar Jepara Satu mengungkapkan, kenaikan harga daging ayam terjadi dalam sepekan terakhir. Kenaikan harga itu rata-rata mencapai Rp 10 ribu per kilogram.
Sebelumnya, pada pekan lalu harga daging ayam potong hanya Rp 30 ribu per kilogram. Namun, sekarang naik menjadi Rp 40 ribu per kilogram.
“Kalau daging ayam pejantan dan petelur naik semua. Seperti ayam potong, naiknya Rp 10 ribu. Cuma daging ayam kampung yang naiknya hanya Rp 5 ribu per kilo gram,” kata Denik, Jumat (9/4/2021).
Menurutnya, kenaikan itu lumrah terjadi setiap kali bulan Ramadan tiba. Namun, jika dibandingkan tahun lalu yang masih sama-sama dalam kondisi pandemi, tahun ini pembelian daging ayam terbilang meningkat.
“Ini lumayan ramai. Biasanya, kalau ayam potong, saya beli dari peternak dari Kudus,” ujar dia.
Sementara itu, Satuan Tugas (Satgas) Pengendali Inflasi Daerah Jepara Heru Sutamaji, mengungkapkan kenaikan harga ayam tersebut dikarenakan persediaan ayam di dalam kota sedikit. Sebab, saat ini banyak kandang milik peternak ayam kosong.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News




Denik, salah satu pedagang daging ayam di Pasar Jepara Satu memeriksa daging yang dijualnya. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)[/caption]
MURIANEWS, Jepara - Beberapa hari jelang Ramadan, harga kebutuhan pokok di pasar tradisional di Bumi Kartini mulai mengalami kenaikan. Salah satu komoditas pangan yang naik yaitu daging ayam.
Denik, salah satu penjual daging ayam di Pasar Jepara Satu mengungkapkan, kenaikan harga daging ayam terjadi dalam sepekan terakhir. Kenaikan harga itu rata-rata mencapai Rp 10 ribu per kilogram.
Sebelumnya, pada pekan lalu harga daging ayam potong hanya Rp 30 ribu per kilogram. Namun, sekarang naik menjadi Rp 40 ribu per kilogram.
“Kalau daging ayam pejantan dan petelur naik semua. Seperti ayam potong, naiknya Rp 10 ribu. Cuma daging ayam kampung yang naiknya hanya Rp 5 ribu per kilo gram,” kata Denik, Jumat (9/4/2021).
Menurutnya, kenaikan itu lumrah terjadi setiap kali bulan Ramadan tiba. Namun, jika dibandingkan tahun lalu yang masih sama-sama dalam kondisi pandemi, tahun ini pembelian daging ayam terbilang meningkat.
“Ini lumayan ramai. Biasanya, kalau ayam potong, saya beli dari peternak dari Kudus,” ujar dia.
Sementara itu, Satuan Tugas (Satgas) Pengendali Inflasi Daerah Jepara Heru Sutamaji, mengungkapkan kenaikan harga ayam tersebut dikarenakan persediaan ayam di dalam kota sedikit. Sebab, saat ini banyak kandang milik peternak ayam kosong.
Kekosongan ini lantaran mereka harus mengantre untuk memperoleh day old chicken (DOC) atau anakan ayam yang baru menetas.
”Pantauan kami di lapangan itu, para peternak sedang menunggu DOC. Jadi pasokan daging otomatis tidak ada. Sebenarnya ada peternak kelas besar, tapi DOC nya dijual ke luar kota,” jelas Heru.
Ia menyebutkan, kebutuhan daging ayam di Jepara mencapai 21,71 ton per hari. Sementara produksi daging ayam di Jepara hanya 12,43 ton per hari.
Kekurangan kebutuhan daging ayam harian dipasok dari sejumlah daerah di sekitar Jepara. Seperti dari Salatiga, Kudus, atau Kendal, dan Semarang.
Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Ali Muntoha