Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Jepara - Bulan Ramadan sudah berjalan. Sebagian besar masyarakat sering memilih membeli takjil di pinggiran jalan. Sebab, membeli takjil di pinggir jalan menjadi pilhan praktis sebagai menu berbuka puasa.

Namun demikian, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih takjil. Sebab, bukan tidak mungkin pada jajanan itu terkandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh.

Mudrikatun, Kepala DKK Jepara menjelaskan, pedagang takjil harus memperhatikan betul jajanan yang mereka jual. Mulai dari pengolahan bahan baku sampai penyajian makanan yang sudah matang.

“Takjil yang dijual, entah di pinggiran jalan atau mana saja, harus higienis. Proses pengolahan juga harus di tempat yang higienis,” kata Mudrikatun, Kamis (15/4/2021).

Tentang penyajian, Mudrikatun menuturkan bahwa takjil harus disajikan tertutup dengan kemasan baik. Sehingga tidak ada debu atau lalat yang hinggap. Sebab, bakteri-bakteri bisa menular melalui debu dan lalat.

Selain soal kemasan, Mudrikatun juga menyoroti bahan pewarna pada takjil. Dia menilai, tidak sedikit pedagang nakal yang menggunakan pewarna tekstil untuk mewarnai makanan. Padahal, itu bia menyebabkan beragam penyakit.
Selain soal kemasan, Mudrikatun juga menyoroti bahan pewarna pada takjil. Dia menilai, tidak sedikit pedagang nakal yang menggunakan pewarna tekstil untuk mewarnai makanan. Padahal, itu bia menyebabkan beragam penyakit.“Kalau memilih takjil, jangan yang warnanya terlalu mencolok. Sebab, itu salah satu ciri pewarna tekstil. Dan kami akan terus memantau mereka (penjual takjil),” tandas Mudrikatun.Nur Asiyah, salah satu penjual takjil di Pasar Jepara I mengaku tidak berani menggunakan pewarna tekstil saat mengolah jajanannya. Ia lebih memilih memakai pewarna yang benar-benar khusus untuk makanan.“Meskipun kadang boros kalau pakai pewarna makanan, tapi tak masalah. Yang penting aman. Pelanggan juga percaya dengan kualitas makanan saya,” pungkasnya. Reporter: Faqih Mansur HidayatEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler