Kasus Pengeroyokan di Tengguli Jepara: Keluarga Sudah Janggal Saat Mandikan Jenazah
Faqih Mansur Hidayat
Senin, 2 Agustus 2021 16:55:29
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
MURIANEWS, Jepara - Keluarga Subroto (42), korban pengeroyokan sekelompok pemabuk di Desa Tengguli, Kecamatan Bangsri, Jepara menemukan sejumlah kejanggalan pada kematian itu. Saat memandikan jenazah, terdapat sejumlah keanehan-keanehan.
Martono (59), ayah korban yang hadir dalam proses pembongkaran makam dan autopsi anaknya, Senin (2/8/2021) mengaku awalnya tidak mengetahui kalau anaknya meninggal akibat dikeroyok sekelompok orang. Sebab, anaknya mengaku terluka karena kecelakaan kendaraan.
“Tahunya kan, jatuh. Enggak dikeroyok. Masuk rumah itu muntah darah,” kata Martono, saat melihat proses autopsi anaknya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Slentreng, Desa Bangsri.
Karena mengaku kecelakaan, akhirnya pihak keluarga tidak membawanya ke rumah sakit. Selama lima hari dirawat di rumah, korban tidak bisa bicara. Jelang lima hari dari peristiwa pengeroyokan itu, korban meninggal dunia.
Sampai setelah jenazah dimakamkan, Martono masih tidak tahu bahwa anaknya meninggal dunia akibat dikeroyok orang. Ia merasa ada kejanggalan ketika ada beberapa orang datang ke rumahnya dan mengaku kalau mereka dan Subroto telah dipukuli banyak orang.
“Habis tahlil, ada teman-temannya yang ke rumah saya. Mengatakan dia kepalanya itu, tatu jahitan itu bekas dipukuli anak-anak situ (Desa Tengguli, red),” ujar Martono.
Setelah mendapati pengakuan itu, Kemudian Martono mendatangi rumah kepala desa untuk kemudian melaporkannya pada Polsek Bangsri pada 25 Juli 7 2021.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News




Proses autopsi jenazah Subroto, korban pengeroyokan di Desa Tengguli, Jepara. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)[/caption]
MURIANEWS, Jepara - Keluarga Subroto (42), korban pengeroyokan sekelompok pemabuk di Desa Tengguli, Kecamatan Bangsri, Jepara menemukan sejumlah kejanggalan pada kematian itu. Saat memandikan jenazah, terdapat sejumlah keanehan-keanehan.
Martono (59), ayah korban yang hadir dalam proses pembongkaran makam dan autopsi anaknya, Senin (2/8/2021) mengaku awalnya tidak mengetahui kalau anaknya meninggal akibat dikeroyok sekelompok orang. Sebab, anaknya mengaku terluka karena kecelakaan kendaraan.
“Tahunya kan, jatuh. Enggak dikeroyok. Masuk rumah itu muntah darah,” kata Martono, saat melihat proses autopsi anaknya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Slentreng, Desa Bangsri.
Karena mengaku kecelakaan, akhirnya pihak keluarga tidak membawanya ke rumah sakit. Selama lima hari dirawat di rumah, korban tidak bisa bicara. Jelang lima hari dari peristiwa pengeroyokan itu, korban meninggal dunia.
Sampai setelah jenazah dimakamkan, Martono masih tidak tahu bahwa anaknya meninggal dunia akibat dikeroyok orang. Ia merasa ada kejanggalan ketika ada beberapa orang datang ke rumahnya dan mengaku kalau mereka dan Subroto telah dipukuli banyak orang.
“Habis tahlil, ada teman-temannya yang ke rumah saya. Mengatakan dia kepalanya itu, tatu jahitan itu bekas dipukuli anak-anak situ (Desa Tengguli, red),” ujar Martono.
Setelah mendapati pengakuan itu, Kemudian Martono mendatangi rumah kepala desa untuk kemudian melaporkannya pada Polsek Bangsri pada 25 Juli 7 2021.
Baca: