Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Jepara - Masyarakat Kepulauan Karimunjawa tercekik seiring dengan matinya pariwisata. Sektor yang menjadi denyut nadi masyarakat itu terkapar digebuk pandemi.

Sejak Karimunjawa dikenal sebagai destinasi tujuan wisata, masyarakat yang dulunya menjadi nelayan bergeser menjadi pengusaha wisata. Ada yang menjadi pemandu wisata, menyewakan hunian atau kendaraan, sampai jualan makanan untuk wisatawan.

Namun, anugerah itu sirna setelah adanya pandemi Covid-19. Sejak kemunculannya, sampai sekarang virus itu masih menjadi momok bagi masyarakat.

Budi Santoso, salah satu warga Karimunjawa, mengaku putus asa dengan keadaan saat ini. Sebelum pandemi, ia memiliki beberapa usaha.

Seperti pemandu wisata yang sekaligus memiliki perahu dan memiliki delapan sepeda motor untuk disewakan. Ia mengaku dulu bergelimang uang.

“Sekarang habis-habisan. Motor sudah tak jual tiga. Buat makan,” kata Budi kepada MURIANEWS, Sabtu (14/8/2021) lalu.

Karena sudah kehabisan cara, Budi akhirnya kembali ke profesi lama, yakni melaut lagi. Ia menjadi nelayan lagi. Sebab, ia tak mungkin hanya mengandalkan usaha warung makan yang dijalankan istrinya.

Ada yang lebih parah dari Budi. Salah satu pengusaha pendatang bahkan mengalami stres serius. Pasalnya, usaha yang baru dirintis tumbang dihantam pandemi.

Tidak hanya pengusaha kecil, pengusaha besar juga merasakan getirnya hidup di Karimunjawa selama pandemi. Sienny, salah satu pemilik penginapan ternama di sana juga kelimpungan menghadapi keadaan.
Tidak hanya pengusaha kecil, pengusaha besar juga merasakan getirnya hidup di Karimunjawa selama pandemi. Sienny, salah satu pemilik penginapan ternama di sana juga kelimpungan menghadapi keadaan.“Kondisi Karimunjawa masih sedih. Bahagia cuma 0,5 persen. Kita kepingin hidup lagi. Karena masyarakat di sini juga kasihan,” kata Sienny.Sienny menyebut jumlah tamunya selama pandemi bisa dihitung dengan jari. Padahal, sebelum pandemi, sedikitnya dalam sebulan ia bisa menerima tamu wisatawan paling sedikit 500 orang.Dirinya berharap, pemerintah segera membuka kembali pariwisata di Karimun Jawa. Sebab, hanya itulah yang bisa menghidupkan kembali roda perekonomian masyarakat.“Tolong untuk pariwisata mohon untuk segera dibuka. Tidak ada lockdown tidak ada PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, red). Karena kita mengikuti protokol kesehatan,” tegas Sienny.Diberitakan sebelumnya, kunci dibukanya pariwisata di Karimunjawa dalah terbentuknya kekebalan kelompok minimal 70 persen dari seluruh jumlah penduduk. Sedangkan, syarat utamanya adalah vaksinasi.Diketahui, jumlah penduduk Karimunjawa ada 10.200 jiwa. Yang sudah tervaksin dosis pertama dan kedua sudah sebanyak 1.620 orang. Sementara yang baru dosis pertama 2.450 jiwa. Sehingga, untuk mencapai 70 persen, warga yang divaksin harus sebanyak 8.000 orang. Kini, kekurangannya tinggal 3.000 orang yang belum terjatah vaksin. Reporter: Faqih Mansur HidayatEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler