Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Jepara - Eksistensi bahasa lokal khas Jepara patut menjadi perhatian khusus. Sebab, melalui bahasa, identitas kedaerahan bisa tetap terjada kelestariannya.

Untuk melestarikan bahasa lokal, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, mengadakan lomba monolog bercerita tentang legenda. Uniknya, seluruh peserta diwajibkan membawakan ceritanya dengan berbahasa lokal khas Jepara.

Kepala Seksi Kepurbakalaan pada Disparbud Jepara Lia Supardianik menjelaskan, penggunaan logat Jeparanan itu dipilih untuk memunculkan kembali logat khas Kota Ukir itu.

Pasalnya, saat ini sebagian masyarakat, terutama anak muda, sudah tidak menggunakan logat Jeparanan sebagai cara bicara. Melainkan, mereka cenderung menggunakan logat bergaya kekinian.

“Lomba ini didasari atas keprihatinan Bahasa Jawa. Terutama logat Jeparanan yang mulai jarang dipakai sebagian orang,” kata Lia, Selasa (28/9/2021).

Lomba itu diikuti 15 pelajar SD, 47 pelajar SMP, dan 19 pelajar SMA. Hari ini adalah kali pertama lomba itu digelar. Tak hanya logat khas Jepara, peserta juga diwajibkan membawakan cerita rakyat Jepara berupa legenda yang berkembang di daerah masing-masing.

Sementara itu, salah satu juri, Robi Shani, menilai sama dengan Lia. Dia melihat logat-logat Jeparanan yang umum dijumpai belum begitu terlihat pada penyampaian cerita peserta.“Misalnya mberuh (banyak, red), kalau pakai logat Jeparanan kan biasanya pakai kata mbuweruh. Kosakata-kosakata sederhana semacam itu masih belum kita lihat,” terang Robi.Menurut Robi, lomba-lomba semacam itu penting diadakan lebih banyak lagi. Sehingga, logat Jeparanan bisa dilestarikan meski anak-anak muda digerus kebudayaan kekinian.“Logat Jeparanan itu kaya. Misalnya saja logat orang Kecamatan Keling, itu pasti akan berbeda dengan logat orang Kecamatan Kedung yang berada di pesisir,” ujar dia. Reporter: Faqih Mansur HidayatEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler