Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Jepara - Kabupaten Jepara terbentuk atas berbagai macam perbedaan. Mulai dari agama sampai cara pandang berpikir. Namun, perbedaan-perbedaan itu mampu diharmonisasikan menjadi sebuah khazanah lokal yang bernilai tinggi.

Hal itu terungkap dalam webinar yang diadakan Mahasiswa Jepara Madura (Swara), yang bertema “Sareng Sengkuyung Manunggal Cita Nguri-uri Budaya Jepara.” Seminar ini diadakan di Pendapa RA Kartini Jepara, Sabtu (2/10/2021).

Hadi Priyanto, budayawan Jepara yang menjadi salah satu narasumber, menegaskan bahwa identitas masyarakat Jepara adalah terbuka. Terbuka dalam artian bisa menerima semua cara pandang dari pihak manapun.

Hadi menyampaikan, dulu, Jepara adalah wilayah yang menjadi bandar besar. Yang menjadi jalur utama perdagangan di jalur laut.

Atas dasar letak geografis itu, masyarakat Jepara menjadi terbiasa dengan orang-orang pendatang yang memiliki cara pandang dan identitas baru.

“Jepara ini kota yang religius. Tetapi, sejak dulu, masyarakatnya selalu terbuka dengan agama manapun. Jadi, dari dulu sampai sekarang, kita ini sudah memiliki warisan keterbukaan pada hal-hal apapun,” kata Hadi.

Ia mengutarakan, identitas kebudayaan masyarakat yang terbuka itu mesti diwarisi dan dirawat generasi sekarang. Utamanya para mahasiswa, yang memiliki peran dan cara berbeda dengan generasi tua dalam melestarikan identitas lokal.
Ia mengutarakan, identitas kebudayaan masyarakat yang terbuka itu mesti diwarisi dan dirawat generasi sekarang. Utamanya para mahasiswa, yang memiliki peran dan cara berbeda dengan generasi tua dalam melestarikan identitas lokal.“Seperti Swara ini, saya melihat komunitas ini memiliki komitmen yang kuat untuk merawat identitas lokal. Sehingga, mereka bisa menjadi duta kebudayaan dan kesenian lokal Jepara bagi kota-kota lain. Ini juga bisa dilaksanakan mahasiswa yang menempuh pendidikan selain di Madura,” tutur Hadi.Sementara itu, Ida Lestari, Kabid Kebudayaan pada Dinas Pariwisata da Kebudayaan (Disparbud) Jepara, menilai bahwa pekerjaan rumah (PR) bagi seluruh elemen masyarakat Jepara adalah, bagaimana tetap merawat identitas lokal supaya tetap tangguh dalam menghadapi gerusan budaya global yang serba digital.Menurut Ida, sejatinya, tergerus atau tidaknya budaya dan kearifan lokal itu tergantung pada pribadi masing-masing masyarakat. Jika setiap pribadi memiliki tekad dan kesadaran kuat, maka budaya dan kearifan lokal Jepara tetap akan terjaga.“Baik pemerintah maupun masyarakat sampai tingkat bawah, mestinya kita bisa bersama-sama saling menjaga identitas lokal Jepara. Misalnya melalui tradisi-tradisi masyarakat desa yang harus terus dijalankan,” tutur Ida. Reporter: Faqih Mansur HidayatEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler