MURIANEWS, Jepara – Di persimpangan Jalan Komisaris Moh Sukri dan Jalan KH Wahid Hasyim, Kota
Jepara, Kabupaten Jepara terdapat monument berbunyi “Trus Karya Tataning Bumi”.
Slogan itu juga muncul setiap kali peringatan Hari Jadi Jepara. Lantas apa makna dari slogan yang disebut melekat dengan sosok Ratu Kalinyamat itu.
Dikutip dari laporan hasil penelitian Ratu Kalinyamat karya Yayasan Dharma Bhakti Lestari, slogan itu bermuara dari dimulainya Ratu Kaliyamat menjadi penguasa Jepara.
Baca juga: Cewek Cantik Ini Bakal Jadi Sosok Penting di Hari Jadi JeparaNaiknya Ratu Kalinyamat ke singasana ini terjadi setelah suaminya, Sultan Hadlirin meninggal dunia karena terbunuh oleh Arya Penangsang.
Ratu Kalinyamat naik tahta bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 956 H atau 10 April 1549 M.
Berdasarkan candra sengkala, angka 1549 diartikan menjadi (9) Trus (5) Karya (4) Tataning (1) Bumi. Yang kemudian dibaca menjadi Trus Karya Tataning Bumi.
Dalam Bahasa Indonesia, slogan Trus Karya Tataning Bumi itu berarti Terus Berkarya Menata atau Menjaga Bumi.
Dalam Bahasa Indonesia, slogan Trus Karya Tataning Bumi itu berarti Terus Berkarya Menata atau Menjaga Bumi.Bagi masyarakat
Jepara, candra sengkala tersebut dimaknai sebagai prinsip hidup. Bahwa selagi masih bernyawa, manusia harus terus menerus berkarya untuk menjaga bumi serta keselamatan bumi adalah tanggung jawab manusia.Candra Sengkala itu sudah dibuktikan Ratu Kalinyamat. Pada masa kekuasaannya, Ratu Kalinyamat berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaan. Kebesaran Jepara menggema ke berbagai penjuru dunia.Menurut penulis Portugis, Tome Pires dalam buku Suma Oriental, Jepara pada 1470 adalah sebuah kota pelabuhan yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan.Saat itu
Jepara menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi. Pelabuhan yang besar disinggahi kapal-kapal besar dari berbagai belahan dunia menjadi sebuah kekuatan tersendiri.Selain itu, Ratu Kalinyamat juga sempat menjadi pemimpin faksi kekuatan kesultanan Islam di kawasan Johor, Aceh dan Maluku. Ratu Kalinyamat juga berkali-kali menyerang penjajah terutama Portugis. Reporter: Faqih Mansur HidayatEditor: Zulkifli Fahmi
[caption id="attachment_283582" align="alignleft" width="1280"]

Salah satu monumen di Jepara Kota yang bertuliskan Trus Karya Tataning Bumi. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)[/caption]
MURIANEWS, Jepara – Di persimpangan Jalan Komisaris Moh Sukri dan Jalan KH Wahid Hasyim, Kota
Jepara, Kabupaten Jepara terdapat monument berbunyi “Trus Karya Tataning Bumi”.
Slogan itu juga muncul setiap kali peringatan Hari Jadi Jepara. Lantas apa makna dari slogan yang disebut melekat dengan sosok Ratu Kalinyamat itu.
Dikutip dari laporan hasil penelitian Ratu Kalinyamat karya Yayasan Dharma Bhakti Lestari, slogan itu bermuara dari dimulainya Ratu Kaliyamat menjadi penguasa Jepara.
Baca juga: Cewek Cantik Ini Bakal Jadi Sosok Penting di Hari Jadi Jepara
Naiknya Ratu Kalinyamat ke singasana ini terjadi setelah suaminya, Sultan Hadlirin meninggal dunia karena terbunuh oleh Arya Penangsang.
Ratu Kalinyamat naik tahta bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 956 H atau 10 April 1549 M.
Berdasarkan candra sengkala, angka 1549 diartikan menjadi (9) Trus (5) Karya (4) Tataning (1) Bumi. Yang kemudian dibaca menjadi Trus Karya Tataning Bumi.
Dalam Bahasa Indonesia, slogan Trus Karya Tataning Bumi itu berarti Terus Berkarya Menata atau Menjaga Bumi.
Bagi masyarakat
Jepara, candra sengkala tersebut dimaknai sebagai prinsip hidup. Bahwa selagi masih bernyawa, manusia harus terus menerus berkarya untuk menjaga bumi serta keselamatan bumi adalah tanggung jawab manusia.
Candra Sengkala itu sudah dibuktikan Ratu Kalinyamat. Pada masa kekuasaannya, Ratu Kalinyamat berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaan. Kebesaran Jepara menggema ke berbagai penjuru dunia.
Menurut penulis Portugis, Tome Pires dalam buku Suma Oriental, Jepara pada 1470 adalah sebuah kota pelabuhan yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan.
Saat itu
Jepara menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi. Pelabuhan yang besar disinggahi kapal-kapal besar dari berbagai belahan dunia menjadi sebuah kekuatan tersendiri.
Selain itu, Ratu Kalinyamat juga sempat menjadi pemimpin faksi kekuatan kesultanan Islam di kawasan Johor, Aceh dan Maluku. Ratu Kalinyamat juga berkali-kali menyerang penjajah terutama Portugis.
Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi