Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Jepara – Kemunculan tambak udang ilegal di Karimunjawa, Kabupaten Jepara juga membuat resah sebagian warga setempat. Ada sejumlah kekhawatiran dari mereka.

Salah satunya adalah Bambang Zakaria. Ia adalah salah satu koordinator warga yang menolak keberadaan tambak udang ilegal sejak munculnya sekitar 2018 lalu.

”Kami resah. Alam kami semakin hancur,” kata pria dengan sapaan Jack asal Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa itu saat diskusi film di Tahunan Jepara, Selasa (18/10/2022) malam.

Pembuangan limbah tambak yang awur-awuran itu, lanjut dia, sudah merusak lingkungan dan ekosistemnya.

Berdasarkan hasil uji laboratorium sampel Balai Taman Nasional (BTN) Karimunjawa, limbah tambak udang itu merupakan limbah organik.

Baca: Tambak Udang Ilegal Ancam Kelestarian Karimunjawa Jepara

Limbah tersebut mengandung nitrogen, fosfat dan zat lainnya yang melebihi baku mutu. Keberadaan limbah tersebut membuat alga semakin subur.

Saat ini, sebagian wilayah laut di sekitar tambak udang sudah muncul alga dalam jumlah banyak. Jika alga semakin subur, itu membuat terumbu karang tak bisa bernapas.

”Bahkan cacing sudah pada mati. Sangat mengerikan dampaknya,” ungkap Jack.Jack mengemukakan, petani rumput laut juga semakin sulit menghadapi dampak limbah tambak udang. Sebelum ada tambak, para petani bisa panen sekitar 15-20 ton rumput laut sekali panen.Tapi sekarang, lanjutnya, panen 1 kuintal saja sudah dianggap bagus. Akhirnya, tak sedikit petani meninggalkan budi daya rumput laut.Pada sektor pariwisata, Jack mengaku sangat terpukul. Dia adalah salah satu pegiat wisata Karimunjawa yang terdampak tambak udang.Pasalnya, limbah yang dibuang ke laut sangat merusak ekosistem. Padahal, pemandangan ekosistem itulah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.”Dulu visualnya ijo royo-royo. Sekarang berubah. Baunya menyengat. Udang busuk, kotoran, lintah mati. Sekampung itu baunya. Banyak wisatawan yang kecewa dan protes dengan kondisi Karimunjawa saat ini,” tandas Jack. Reporter: Faqih Mansur HidayatEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler