Petinggi Desa Karimunjawa Arif Setiawan menilai, pelayanan Puskesmas Karimunjawa dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan cukup pesat. Pola pikir masyarakat untuk menggunakan pelayanan kesehatan di Puskesmas pun membaik.
’’Sejak kepala Puskesmasnya yang sekarang ini, pelayanannya semakin baik. Masyarakat merasa nyaman dan lebih dekat,’’ kata Arif, Selasa (21/2/2023).
Selain itu, kepala dan tenaga medis Puskesmas jauh lebih dekat dengan masyarakat setempat. Mereka sering datangi masyarakat untuk mengedukasi soal hidup sehat. Tak hanya itu, sesekali mereka juga bercengkerama dengan warga layaknya saudara.
’’Bagusan yang ini (kepala Puskesmas, red) dibanding yang lalu-lalu. Yang ini lebih rajin. Komunikasi dengan warga sangat bagus. Dia sering ikut kumpul-kumpul warga,’’ ujar Arif.
Ungkapan senada disampaikan Petinggi Desa Parang Zainal Abidin. Tak segan ia memuji kinerja Puskesmas Karimunjawa di bawah kepemimpinan Suhadi.
Suhadi dinilai sangat tanggap dan cepat merespon keluhan masyarakat. Walaupun itu masyarakat di luar Pulau Karimunjawa.
Meski tak selalu datang ke Pulau Parang, lanjut Zainal, Suhadi intens mendampingi dari jauh warga dan tenaga medis yang ditugaskan di sana.
Baca: Ambulans Laut di Karimunjawa Jepara Dikeluhkan, Ini Respon Dinkes JatengZainal mencontohkan, pada kasus menolong ibu yang hendak melahirkan di Pulau Parang. Menurut Zainal, respon Suhadi sangat cepat sehingga ibu dan bayi itu bisa terselamatkan.
’’Kalau kami, butuh pelayanan selalu langsung hadir. Bahkan, saat ada ibu lahiran itu, dia (Suhadi, red) ikut sibuk mencarikan kapal yang nyaman. Semua diurusi secara gratis. Dia beda dengan kepala Puskesmas yang dulu-dulu,’’ jelas Zainal.
Perjalanan Suhadi, Kepala Puskesmas Karimunjawa meraih kepercayaan warga tidaklah mudah. Ia mengatakan, masih banyak pekerjaan rumah (PR) bidang kesehatan di Karimunjawa.
Dia menceritakan, pertama kali ditugaskan di Karimunjawa pada Agustus 2021. Saat itu Suhadi diberi amanat untuk menyelesaikan vaksinasi Covid-19.
Waktu itu capaian vaksinasi baru 1.975 orang untuk dosis pertama dari 8.600 penduduk. Sebagian besar masyarakat setempat sempat menolak vaksinasi. Namun, berkat kegigihannya membujuk warga dari pintu ke pintu, akhirnya warga mau divaksin.
’’Dosis satu dan dua saya selesaikan dalam waktu enam bulan. Prinsip saya, kalau saat itu tidak segera divaksin, ekonomi warga yang sumbernya dari pariwisata bisa ambruk,’’ kata Suhadi.
Setelah sukses menangani Covid-19, Suhadi langsung menata sistem kerja Puskesmas Karimunjawa. Pertama dia mengevaluasi kunjungan pasien. Dia mencari mayoritas penyakit yang muncul di masyarakat.Hasilnya, masyarakat Karimunjawa paling sering mengalami penyakit batuk pilek, hipertensi, dan kencing manis. Untuk menekannya, dia menggerakkan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) lansia, Posyandu lansia dan kegiatan-kegiatan kunjungan dari rumah ke rumah untuk memberikan pelayanan kesehatan serta obat.’’Angka rujukan ke rumah sakit di Jepara berkurang. Sebelumnya sebulan bisa mencapai 11-13 pasien. Sekarang rata-rata dua,’’ sebut Suhadi.
Baca: Pembahasan Ranperda RTRW Jepara TerbengkalaiKemudian untuk rujukan kelahiran dan ibu hamil, saat ini kebanyakan ditangani di Puskesmas Karimunjawa. Itu berbeda dengan dulu yang selalu dirujuk ke RS di Jepara.’’Dokter umum berkala datangi ibu hamil. Bidan desa harus tahu detail soal ibu hamil itu. Sudah punya BPJS atau belum, suaminya di rumah atau tidak. Itu sebagai langkah antisipatif,’’ imbuh dia.Suhadi membangun konsep Puskesmas paradigma sehat. Bukan paradigma sakit. Untuk itu, pihaknya membuka pintu seluas-luasnya bagi warga yang ingin konsultasi kesehatan, sehingga masyarakat bisa mandiri menjaga kesehatannya.Suhadi juga menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan. Dari 360 warga yang disurvei, mayoritas responden menginginkan pelayanan yang cepat. Mereka sudah bosan dengan waktu pelayanan yang berjam-jam.’’Sejak 1 Februari 2023, saya tetapkan sasaran waktu tunggu dan layanan pasien hanya 30 menit. Kalau lebih, nanti saya kasih nomor HP saya,’’ kata dia.Selain membangun sistem pelayanan, Suhadi juga merombak sistem tata kelola keuangan. Saat ini, semua transaksi yang dilakukan Puskesmas dilakukan secara non tunai. Seperti pembayaran gaji pegawai dan pembelian obat.Suhadi tak menampik melayani masyarakat di kepulauan bukanlah hal yang mudah. Perlu pendakatan khusus supaya bisa menyatu dengan masyarakat.’’Saya sering ikut kumpulan-kumpulan warga. Kumpulan RT kadang juga ikut. Dan sekarang Puskesmas dan masyarakat semakit dekat,’’ pungkas Suhadi. Reporter: Faqih Mansur HidayatEditor: Zulkifli Fahmi
Murianews, Jepara – Tingkat kepuasan pelayanan kesehatan di Puskesmas Karimunjawa cukup tinggi. Masyarakat di Kepulauan Karimunjawa semakin mempercayakan kesehatannya kepada Puskesmas setempat.
Petinggi Desa Karimunjawa Arif Setiawan menilai, pelayanan Puskesmas Karimunjawa dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan cukup pesat. Pola pikir masyarakat untuk menggunakan pelayanan kesehatan di Puskesmas pun membaik.
’’Sejak kepala Puskesmasnya yang sekarang ini, pelayanannya semakin baik. Masyarakat merasa nyaman dan lebih dekat,’’ kata Arif, Selasa (21/2/2023).
Selain itu, kepala dan tenaga medis Puskesmas jauh lebih dekat dengan masyarakat setempat. Mereka sering datangi masyarakat untuk mengedukasi soal hidup sehat. Tak hanya itu, sesekali mereka juga bercengkerama dengan warga layaknya saudara.
’’Bagusan yang ini (kepala Puskesmas, red) dibanding yang lalu-lalu. Yang ini lebih rajin. Komunikasi dengan warga sangat bagus. Dia sering ikut kumpul-kumpul warga,’’ ujar Arif.
Ungkapan senada disampaikan Petinggi Desa Parang Zainal Abidin. Tak segan ia memuji kinerja Puskesmas Karimunjawa di bawah kepemimpinan Suhadi.
Suhadi dinilai sangat tanggap dan cepat merespon keluhan masyarakat. Walaupun itu masyarakat di luar Pulau Karimunjawa.
Meski tak selalu datang ke Pulau Parang, lanjut Zainal, Suhadi intens mendampingi dari jauh warga dan tenaga medis yang ditugaskan di sana.
Baca: Ambulans Laut di Karimunjawa Jepara Dikeluhkan, Ini Respon Dinkes Jateng
Zainal mencontohkan, pada kasus menolong ibu yang hendak melahirkan di Pulau Parang. Menurut Zainal, respon Suhadi sangat cepat sehingga ibu dan bayi itu bisa terselamatkan.
’’Kalau kami, butuh pelayanan selalu langsung hadir. Bahkan, saat ada ibu lahiran itu, dia (Suhadi, red) ikut sibuk mencarikan kapal yang nyaman. Semua diurusi secara gratis. Dia beda dengan kepala Puskesmas yang dulu-dulu,’’ jelas Zainal.
Perjalanan Suhadi, Kepala Puskesmas Karimunjawa meraih kepercayaan warga tidaklah mudah. Ia mengatakan, masih banyak pekerjaan rumah (PR) bidang kesehatan di Karimunjawa.
Dia menceritakan, pertama kali ditugaskan di Karimunjawa pada Agustus 2021. Saat itu Suhadi diberi amanat untuk menyelesaikan vaksinasi Covid-19.
Waktu itu capaian vaksinasi baru 1.975 orang untuk dosis pertama dari 8.600 penduduk. Sebagian besar masyarakat setempat sempat menolak vaksinasi. Namun, berkat kegigihannya membujuk warga dari pintu ke pintu, akhirnya warga mau divaksin.
’’Dosis satu dan dua saya selesaikan dalam waktu enam bulan. Prinsip saya, kalau saat itu tidak segera divaksin, ekonomi warga yang sumbernya dari pariwisata bisa ambruk,’’ kata Suhadi.
Setelah sukses menangani Covid-19, Suhadi langsung menata sistem kerja Puskesmas Karimunjawa. Pertama dia mengevaluasi kunjungan pasien. Dia mencari mayoritas penyakit yang muncul di masyarakat.
Hasilnya, masyarakat Karimunjawa paling sering mengalami penyakit batuk pilek, hipertensi, dan kencing manis. Untuk menekannya, dia menggerakkan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) lansia, Posyandu lansia dan kegiatan-kegiatan kunjungan dari rumah ke rumah untuk memberikan pelayanan kesehatan serta obat.
’’Angka rujukan ke rumah sakit di Jepara berkurang. Sebelumnya sebulan bisa mencapai 11-13 pasien. Sekarang rata-rata dua,’’ sebut Suhadi.
Baca: Pembahasan Ranperda RTRW Jepara Terbengkalai
Kemudian untuk rujukan kelahiran dan ibu hamil, saat ini kebanyakan ditangani di Puskesmas Karimunjawa. Itu berbeda dengan dulu yang selalu dirujuk ke RS di Jepara.
’’Dokter umum berkala datangi ibu hamil. Bidan desa harus tahu detail soal ibu hamil itu. Sudah punya BPJS atau belum, suaminya di rumah atau tidak. Itu sebagai langkah antisipatif,’’ imbuh dia.
Suhadi membangun konsep Puskesmas paradigma sehat. Bukan paradigma sakit. Untuk itu, pihaknya membuka pintu seluas-luasnya bagi warga yang ingin konsultasi kesehatan, sehingga masyarakat bisa mandiri menjaga kesehatannya.
Suhadi juga menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan. Dari 360 warga yang disurvei, mayoritas responden menginginkan pelayanan yang cepat. Mereka sudah bosan dengan waktu pelayanan yang berjam-jam.
’’Sejak 1 Februari 2023, saya tetapkan sasaran waktu tunggu dan layanan pasien hanya 30 menit. Kalau lebih, nanti saya kasih nomor HP saya,’’ kata dia.
Selain membangun sistem pelayanan, Suhadi juga merombak sistem tata kelola keuangan. Saat ini, semua transaksi yang dilakukan Puskesmas dilakukan secara non tunai. Seperti pembayaran gaji pegawai dan pembelian obat.
Suhadi tak menampik melayani masyarakat di kepulauan bukanlah hal yang mudah. Perlu pendakatan khusus supaya bisa menyatu dengan masyarakat.
’’Saya sering ikut kumpulan-kumpulan warga. Kumpulan RT kadang juga ikut. Dan sekarang Puskesmas dan masyarakat semakit dekat,’’ pungkas Suhadi.
Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi