Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dalam penyelenggaraannya, MUI menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMK dan Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Kabupaten Kudus. Sekretaris Dewan Kehormatan MUI Pusat, Dr Noor Ahmad MA menyempatkan hadir dalam Sekolah Islam Kebangsaan.

Hadir sebagai narasumber dalam kesempatan ini, Dr. Rozihan pengurus wilayah Muhammadiyah Jateng, Dr Subarkah dosen Fakultas Hukum UMK, dan Joko Tri Haryanto peneliti Balai Litbang Kemenag Semarang. Acara dibuka Rektor UMK, Dr Suparnyo.

Noor Ahmad mengutarakan, Indonesia saat ini diterpa oleh berbagai ideologi, baik dari barat maupun timur. ‘’Namun Indonesia memilih Pancasila sebagai kalimatun sawa’,’’ katanya di depan ratusan peserta yang hadir.

Pancasila sebagai kalimatun sawa’, menurutnya paling sesuai dengan bangsa Indonesia, karena bisa diterima oleh semua kalangan. ‘’Di luar itu, Pancasila juga memperhatikan keberagaman  yang ada,’’ ungkapnya.

Rozihan dalam materinya berjudul Memahami Komunisme mengutarakan, gerakan komunisme saat ini, tidak sama dengan dulu. ‘’Bangkitnya PKI saat ini melalui isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Kalau dulu, melalui gerakan bersenjata dan kekerasan,'' katanya.

Sedang ciri-ciri komunisme yang gampang dipahami, yaitu ateis (tidak mengimani adanya Tuhan), kurang menghargai manusia sebagai individu, dan mengajarkan pertentangan kelas. ‘’Selain itu, komunisme menghendaki revolusi terus menerus,’’ terangnya.

Narasumber lain, Subarkah, mengemukakan, Indonesia merupakan negara plural dengan keyakinan yang beragam dianut rakyatnya. Enam agama resmi yang diakui Indonesia, yaitu Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hu-Chu.‘’Islam sendiri merupakan agama mayoritas di Indonesia. Kendati begitu, ekspresi sosio kultural dan politik kaum muslimin tidak pernah tunggal, tetapi sangat beragam. Indonesia adalah mozaik kepulauan, etnisitas, agama, serta budaya yang indah dan menawan. Keragaman itu terjaga dan terpelihara dengan baik,’’ paparnya.Sedang Joko Tri Haryanto, pada kesempatan itu mengulas mengenai Islam Wasathiyah: Islam Keindonesiaan dan Tantangannya. Dia mengatakan, Islam masuk ke Indonesia dengan cara damai oleh Walisongo dengan strategi budaya.‘’Islam Indonesia adalah Islam wasathiyah, yaitu berakar pada teologi Ahl al-Sunnah wal-Jamaah, menyeimbangkan antara nalar dan teks, tidak ekstrem, menghargai kemajemukan, dan mengutamakan harmoni,’’ jelasnya.Sementara itu, di tengah-tengah kegiatan Sekolah Islam Kebangsaan itu, diisi pula dengan deklarasi Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Kabupaten Kudus, yang dipimpin oleh Sugiyono.Ada tiga poin penting yang dibacakan dalam deklarasi itu; MPPI bertekad membentengi dan mengawal Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika; Memperkuat visi Islam yang berkeindonesiaan, penuh rahmat, toleran, berkemajuan dan kerakyatan; dan Siap melanjutkan tugas keulamaan dengan memperkuat komitmen tafaqquh fi al-din.Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler