Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Selama ini, kata dia, pasar tradisional identik dengan tempatnya yang tidak representatif. Pasar tradisional juga identik dengan suasana kumuh dengan jam buka yang sangat terbatas.

"Faktor kenyamanan, fasilitas dan pelayanan itu yang membuat pembeli lebih tertarik belanja di minimarket ketimbang pasar tradisional, meski harganya sedikit lebih mahal. Maka, jangan kaget kalau banyak yang suka belanja di pasar modern, seperti swalayan, minimarket atau supermarket," kata Haris, Kamis (10/11/2016).

Karena itu, menurut dia, pemerintah mesti punya terobosan untuk membuat pasar tradisional tidak lagi kumuh, kotor dan becek. Dengan demikian, pasar tradisional menjadi tempat belanja representatif yang jauh dari kesan kotor."Kalau mau menyelesaikan masalah, cari akar masalahnya dulu. Bila pasar tradisional kalah bersaing dengan minimarket, apa sebabnya? Kalau alasannya karena kotor dan tidak representatif, maka itu menjadi tugas pemerintah untuk merubah kesan pasar tradisional yang selama ini tidak representatif menjadi representatif," tandasnya.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler